Selasa, 18 Maret 2014

Tafakur Alam 2014 Rohis Asy-Syabab Politeknik Manufaktur Astra Jakarta


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar sobat Rohis?
semoga tetap dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap istiqomah di jalan Allah.
Sob, Rohis tahun ini mau ngadain kegiatan nih, agenda sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu ngadain acara "Tafakur Alam".

apa tuh Tafakur Alam?
Nah tafakur alam itu adalah acara pendekatan diri kepada alam untuk bisa mensyukuri alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT dengan sangat sempurna. Tafakur Alam tahun lalu berlangsung 2 hari, mulai tanggal 2 Maret sampai tanggal 3 Maret 2013 di Cisarua, Bogor.

ngapain aja sih Tafakur Alam?
Tafakur Alam dikemas dengan sangat menarik dan mendidik khususnya buat anak remaja atau ABG, nah ya kaya kita-kita ini nih dengan status mahasiswanya yang ngakunya gaul, yang kagak ikutan kagak gaul itu mah, hehe just kidding. Pokoknya acaranya di jamin seru, ada berbagi macam games, outbond, hiking yang tentu saja bernuansa Islami. Dan yang lebih seru lagi, alumni-alumni Rohis dan kakak-kakak tercinta kita yang lagi pada magang antusias banget ngeluangin waktu buat hadir dan ikutan, nah kehadiran mereka disana tak lain ingin tetap menyambungkan tali silaturahmi dengan kita disana, tenang enggak ada senioritas lho di Rohis, semua saudara seiman :)

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

kayaknya seru, kapan nih mau diadain?
Pasti seru dong, Insya Allah di akhir Maret nanti tanggal 29-30 Maret 2014 Rohis kembali mengadakan acara Tafakur Alam. Dan tempatnya di Jl. Hankam  No.53 Villa Wisma Cipari,  Cisarua-Bogor. Ayo teman-teman mahasiswa Politeknik Manufaktur Astra buruan daftar, masa rebutan tiket konser rela rebutan, eh tiket tafakur alam ogah-ogahan, hehe insyaAllah ini salah satu tiket masuk surga buat kita.. aamiin
kita berdoa aja semoga kegiatan kita terlaksana dengan lancar. aamin ya robbal 'alamin.



mau liat foto2 Tafakur Alam tahun lalu, nih dia sob :


























Ayoo buruan daftar ke Contact Person yang ada di poster yaa... Salam Ukhuwah Fillah.. Allahu akbar !!!!

Sabtu, 15 Februari 2014

Lagu Kebangsaan Saya Sebagai Warga Bumi Blambangan "BANYUWANGI"

Umbul-Umbul Belambangan


Bul-umbul Belambangan 3xUmbul-umbul Belambangan eman…He
umbul-umbul he Belambangan 2x

Belambangan,
BelambanganTanah Jawa pucuk wetan
Sing arep bosen sing arep bosen
Isun nyebut-nyebut aran ira
Belambangan, Belambangan
Membat mayun Paman
Suwarane gendhing Belambangan
Nyerambahi nusantara
Banyuwangi… kulon gunung wetan segara
Lor lan kidul alas angkerkeliwat-liwat
Belambangan..
Belambangan Aja takon seneng susah kang disanggaTanah endah…
gemelar ring taman sari nusantaraHe.. Belambangan…
He Belambangan
Gemelar ring taman sari nusantara
Belambangan he seneng susahe wistah aja takon
Wis pirang-pirang jaman turun temurun yong wis kelakon
Akeh prahara taping langitira magih biru yara
Magih gedhe magih lampeg umbak umbul segaranira
Belambangan he..
gunung-gunungira magih perkasa
Sawah lan kebonanira wera magih subur nguripi
Aja kengelan banyu mili magih gedhe seumberira
Rakyate magih guyub ngukir lan mbangun sing mari-mari
He Belambangan lir asata banyu segara
Sing bisa asat asih setya baktinisun
Hang sapa-sapa baen arep nyacak ngerusak
Sun belani sun dhepani sun labuhi
Ganda arume getih Sritanjung yong magih semebrung
Amuke satria Menakjingga magih murub ring dhadha
Magih kandel kesaktenane Tawang Alun lan Agung Wilis
Magih murub tekade Sayuwiwit
Lan pahlawan petang puluh lima
Ngadega jejeg … ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil lan makmur
Nusantara…………

Sabtu, 08 Februari 2014

Belajar Dari Seorang Tukang Sol Sepatu


Seperti hari biasa,hari ini kuliah ku lalui dengan semangat jihadku. Bertemu dengan teman-teman kelas begitu membuatku semangat ke kampus setiap pagi. Dengan berbagai macam karakter ku temui di sini, ya meskipun banyak dari berbagai suku, aku nyaman di dalamnya dengan karakterku sendiri untuk berbaur dengan mereka. Meskipun sedikit banyak perdebatan mungkin ini yang malah membuat kami semakin dewasa dan saling merindukan. Jauh dari keluarga sebagai pecandu ilmu itu sangat menantang memang. :D
Kuliah berakhir di sore hari, dengan kebiasaan yang berlangsung, sebagai anak rantau kami berjalan kaki ramai-ramai menuju kost masing-masing dengan berbagai canda tawa disepanjang jalan. Ini yang membuatku tak berasa lelah setelah seharian jadi pecandu ilmu. Namun untuk hari ini, aku tak berjalan bersama mereka karena sesuatu kepentingan kecil yang membuatku harus tertinggal sejenak di kampus. Sesaat setelah selesai tak berpikir panjang aku segera beranjak meninggalkan kampus menuju kostan. Berjalan kaki sendiri pada akhirnya, ya tetap menyenangkan meskipun tak sesenang berjalan bersama mereka.
Sesaat hampir tiba di kostan, aku melihat seorang tua sepuh mengayuhkan sepeda tuanya melintas di depanku ketika aku ingin menyebrang jalan. Entah apa yang ada dipikiranku, seketika itu aku memanggilnya dan bertanya, “Pak, bisa men-sol sandal tidak? Tapi sandalnya ada di rumah.”
“ Bisa, rumahnya dimana?”, jawabnya dengan nada lirih dan senyum. “di gang depan itu pak, no.12B”, selaku. “ini mau pulang? Ya sudah saya ikuti dari belakang ya neng”, sambutnya. Akhirnya aku baru menyadari, kenapa respon pikiran ku secepat kilat begini yaa padahal sebelumnya tidak ada planning untuk men-sol kan sandal ku dirumah.  Ya tapi tak apalah, toh juga tidak ada salahnya malah makin kuat sepertinya..hehe atau mungkin ini sudah rezeki bapak itu (dalam hati). Setiba dikost, aku memintanya menunggu sejanak sembari masuk dan mengambil sandalku. Beliau, menunggunya dengan senyum keriput di wajahnya. Aku masuk dan mengambil sandal dan keluar kembali menemuinya, lalu aku meminta izin masuk untuk melakukan sholat ashar terlabih dahulu, ia menyilakan ku untuk menunaikan kewajibanku. Seusainya, aku kembali menemuinya untuk melihat apakah sandal ku telah selasai di sol atau belum, ternyata belum. Akhirnya tak panjang lebar dengan ke-KEPPO-anku aku segera bertanya cara men-sol sandal yang benar itu bagaimana, ya meskipun tidak berkeinginan menjadi tukang sol sepatu setidaknya aku tahu, pikirku. Ia dengan senang hati menjawab dengan senyum dan telaten mensol satu demi satu tarikan mengelilingi sandalku. Aku semakin semangat untuk bertanya. Pada akhirnya, aku sedikit menyimpang dari topik,ku tanyakan tentang keluarganya. SubhanAllah  aku sedikit berpikir sejenak merenungi ketegaran seorang yang telah tua rentan menjalani kehidupannya. Beliau berasal dari Garut dan merupakan ayah dari 11 orang anak. Dari ke 11 anaknya, 7 orang telah mentas dan berkeluarga sekarang ada yang di Cikarang, Karawang, Tangerang juga meskipun rata-rata hanya mengenyam pendidikan SLTA, dan ke 4 sisanya masih berada di bangku sekolah. Di kerasnya Ibukota ia memilih untuk hidup hanya seorang diri di sebuah rumah kontrakan kecil di dekat pasar Pelita, pasar arah ke Terminal Tanjung Priok terangnya, karena istri dan keluarga berada di kampung, dan enggan tinggal bersama anak-anaknya yang sudah berkeluarga karena perasaannya yang takut merepotkan. “lagi juga kalo yang di kampung dibawa ke Jakarta semua, mahal neng biaya hidupnya belum lagi sekolahnya anak-anak”, tegasnya sambil tersenyum. “Makannya gimana Pak?”,tanyaku. “hehe, beli atuh neng, ga ada yang masakin di sini, istri di kampung sama anak-anak”, sambutnya. Sembari menanti sandalku, aku suguhi ia dengan pertanyaan-pertanyaan ku tentangnya (maklum pak orang keppo, dalam hati). “kelilingnya kemana aja pak? Dari pagi?” tanyaku sambil melihat-lihat peralatan sol di kotak sepedanya. “Berangkatnya dari pagi sampai sore kaya gini, kemana aja neng, namanya cari rezeki kadang jauh, kadang juga deket namanya juga buat keluarga, meskipun sedikit tapi insyaAllah halal dan berkah neng,” pungkasnya sembari menyodorkan sandal yang telah ia sol kepadaku. Dengan sedikit terkejut aku dalam lamunan kecil, segera aku bertanya berapa yang harus aku bayar untuk jasa sol sandalku. Ia hanya mematok harga Rp 10.000,- untuk sepasang sandal dan sepatu ternyata. Aku beranjak meninggalkan bapak tua itu untuk masuk kedalam rumah. Di balik jendela kecil aku mengintip kegiatannya membereskan peralatannya dan segera pergi mengayuh sepedanya untuk melanjutkan perjalanannya pulang. Ya Allah aku terdiam sejenak mendengar kata-kata Pak tua itu tadi , dengan tubuhnya yang telah renta, keriput, dengan sepeda tuanya yang kulihat berkarat di semua bagiannya, hingga tak nampak pelumas sedikitpun dari rantai sepedanya, namun ia tetap semangat mencari rezeki yang halal dan berkah untuk keluarga. Dengan 11 orang anak dan 1 istri dan dirinya sendiri ia mampu menghidupi keluarganya dengan mengandalkan menjadi tukang sol sepatu keliling bertahun-tahun di Ibukota yang hanya mematok harga Rp 10.000,- /pasang. Secara logika ku kalo main hitung-hitungan sebagai anak muda itu mustahil bisa dilakukan, Rp 10.000,- dibagi-bagi dengan mahalnya biaya sekolah, biaya makan, belum sandang, papan, atau kebutuhan lainnya di zaman sekarang, ditambah lagi tidak setiap hari juga orang membutuhkan jasanya, tapi kenyataanya bisa dilakukannya meskipun dengan kesederhanaan adanya. Kurang lebih kata yang masih melekat sampai detik ini adalah “ tetap disyukuri aja neng meskipun sedikit ga apa apa, kan kita masih punya Allah Yang Kaya, InsyaAllah Allah itu ga tidur yang penting kitanya berdo’a dan jangan lupa usaha dan kerja kerasnya”. Benar adanya “Kunfayakun” Allah bisa merubah apa yang Allah kehendaki, meskipun itu diluar logika kita. MAKJLEB sekali kata-katanya membuat ku seketika ingin segera menelepon Ayah Ibuku di rumah sana. Dan berterima kasih untuk semua kerja keras untuk aku anaknya. Hanya do’a semoga tetap sehat kuat untuk Ayah dan Ibuku disana, maafkan nanda yang masih belum bisa membalas secara riil untuk semuanya. Yah begitu berkesan hari ini, alhamdulillah Allah masih mengingatkanku untuk tetap selalu bersyukur. Memang benar  terkadang pelajaran itu tak mengenal siapapun dan dari manapun datangnya, dan jangan memandang siapa yang memberi ilmu namun lihatlah apa yang ingin disampaikan. “Lainsyakartum la adzi dhannakum, walain kafartum inna adzabii lasysyadid”. Semoga bermanfaat dan menginspirasi J


Aku Mencintaimu Dalam Diamku

Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.
Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan nasehatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya.
Aku yang mengagumimu dalam diam. Utuh tak tersentuh. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu.
Karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.
Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.
Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. Maka izinkan aku, hai engkau yang begitu mulia, izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?
Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku.
Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana.
Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.
Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.
Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balika n hati hamba-Nya.
“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”

Hikmah ^_^`

Dari Tetesan Air Mata kita
Belajar Mengerti..
Dari Perselisihan kita Belajar
Memahami..
Dari Pengkhianatan kita Belajar
Kesetiaan..
… Dari Rasa Khawatir kita
Belajar Percaya..
Dari Rasa Kehilangan kita
Belajar Menghargai..
Dari Rasa Bersalah kita Belajar
Memaafkan..
Dari Sebuah Harapan kita
Belajar Berjuang..
Dari Sebuah Perjuangan kita
Belajar Berkorban..
Dari Sebuah Pengorbanan kita
Belajar Ketulusan..
.
Manakala kita Renungkan
semua Peristiwa baik yang
Menyenangkan atau yang
Menyedihkan, akan Membawa
Hikmah Bagi Hati yang Mau
Terbuka untuk Memahami dan
Menggali serta Memetik
Hikmah.
Sungguh Beruntung orang-orang
yang Beriman,segala yang
dialami Tak ada yang sia-
sia…SubhanAllah.

Selasa, 12 Maret 2013

“Antara nikah atau bunuh perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.
“Antara nikah atau bunuh perasaan”
Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? Apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? Seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku” :)
Sedangkan cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy. Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21:
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. 
Senada dengan ungkap Pak Romi Sastrio Wahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan
Selanjutnya ungkapan familier pak Romi Satrio Wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas),Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya” 
Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.
Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.
Insya Allah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekad, niat, keinginan, dan kesabaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak dzikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.
Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.
Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajalla 
Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannya, Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah, kekalkanlah cintanya.”
Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.
 
Gambar

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

PERGILAH !!!


Ingin selalu aku menjaga hati dari godaan
Tak terpengaruh mereka yang ada di sekitarku
Namun, apa daya
Aku hanya manusia biasa
Saat kau datang, aku terkesima
Kau berikan senyuman
Kau ucapkan sepetik kata nan indah
Jujur, aku tak tergoda dengan itu
Tapi, harapan-harapan muncul dari diriku sendiri
Memenuhi ruang hati
Adakah yang salah denganku?
Atau denganmu?
Aku ingin menjaga hati
Tapi, harapan-harapan itu terus berkembang
Seiring kehadiranmu dalam hidupku
Aku semakin tak berdaya
Namun, kau tak kunjung berterus terang
Tak tampak keseriusan
Tak tampak kejelasan
Lalu mengapa kau datang?
Apa kau hanya ingin mengujiku saja?
Ingin kukatakan
Pergi! Pergilah!
Pergi dari hadapanku!
Pergi saja jika kau hanya memberi harapan palsu
Jangan ganggu aku jika kau hanya ingin bermain-main
Datanglah kembali nanti
Jika kau telah siap
Dengan janji yang hakiki
Sepenuh jiwa, raga, dan hati.
Gambar

Butuh Kedewasaan


Ketika lisan tak bisa berucap
Ketika kaki tak kuasa melangkah
Ketika pikiran tak berhenti untuk berpikir
Dan ketika jiwa tak bisa menahan lagi kehendak diri
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Ketika ruang memisahkan kita
Ketika waktu berada di depan kita
Ketika ocehan-ocehan kecil mulai terdengar
Dan ketika puncak amarah ada di kerongkongan
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Bukan diperdebatkan, bukan juga diperselisihkan.
Tapi direnungkan….
Disolusikan…..
Hatiku kembali berkata “butuh kedewasaan”
Memang hidup ini sulit, Apalagi merumuskan kehidupan….
Meski hidup sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur,
Tetap saja manusia ingin eksis dengan rumusannya.
Dia bangga dengan itu, bahkan Angin pun dia sikut.
Dia sombong, Dia angkuh, dan Dia juga ceroboh…..
Sungguh hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Angin itu berhembus sepoi-sepoi, dekat dengan telinganya…
Belum lagi hentakan bumi menggoncangkan jiwanya…
Matanya jadi buta karena itu, ya karena dia sombong
Dari kejauhan terlihat ada orang yang berlari
Tak sabar ingin cepat-cepat bertemu
Dengan dia yang menyikut angin…..
Aku mengelus dada, dan hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Mimpi itu mimpi kita……
Aku, kamu dan kamu
Tapi kenapa aku bangga dengan aku?
Kenapa kamu bangga dengan kamu?
Adakah kita bangga dengan Kita?
Tanganku kembali mengelus dada
“butuh kedewasaan”
Ya…..!!!!!! “butuh kedewasaan”
Tentang mimpi, tentang hidup, tentang apapun itu
Aku tak ubahnya seperti dia yang menyikut angin
Bahkan aku buta lebih dari dia yang buta
Aku juga bisa lebih cepat berlari dibandingkan dia yang terlihat berlari dari kejauhan
Heummmm…..
Tapi selalu hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Gambar

Cinta, Biarkan Aku Menyambut Cinta-Nya


Cinta,
telah lama kita dipisahkan, melalui jarak, melalui waktu…
tak kutemui lagi senyum manismu, tak kujumpai lagi gelak
candamu…
Aku yang pendiam, dan sosokmu yang periang…
Cinta,
kata terakhirmu yang terlontar adalah “Jaga dirimu baik-baik”
Aku menjaga diriku, walau di hatiku masih terbesit keinginan untuk
mengetahui kabarmu…
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, cinta?
Cinta,
Saat itu aku bingung…
Mengapa kamu yang aku pilih…
Aku tertawa sekarang, mungkin sebuah kesalahan di masa lalu
ketika kubiarkan jiwamu datang mengetuk pintu hatiku…
Cinta…
Jiwamu benar-benar menyapa hatiku,
Sungguh cuma sampai di situ…
Lalu Dia menyadarkanku, cinta, tentang dirimu dan juga kesalahanku…
Cinta, sungguh tak pernah aku sesali,
Kau sungguh baik, kau tidak pernah menuntut suatu hubungan…
Kau hanya memberi cinta…
Tanpa pernah menuntut cinta dariku…
Mungkin itu yang membuatku luluh…
Baiklah cinta…
Saat itu mungkin kau tak tau aku juga kagum padamu…
Terima kasih, Cinta,
Atas pengorbananmu… Atas sikap baikmu dan juga cinta yang kau
hadirkan untukku…
Tapi, Cinta…
Sekarang sudah kutemukan cinta yang jauh lebih besar darimu…
Bahkan hatiku pun tak mampu menerima muatan cinta itu…
Aku terbuai dengan cinta-Nya, cinta…
Alunan kasih sayang-Nya telah menyemai molekul cinta yang
dalam di hatiku…
Sungguh harus kutinggalkan engkau, cinta…
Karena hatiku hanya dapat mencintai satu cinta…
Cinta-Nya tak pernah berhenti padaku, sekalipun saat aku
meninggalkan-Nya…
Selamat tinggal, cinta…
Aku memilih-Nya…
Ya, aku memilih cinta-Nya…
Sampai kapan pun, tak akan tergantikan, sekalipun olehmu…
cinta…
Gambar

Dalam Dekapan Dakwah


Menemukanmu dalam dekapan dakwah
Berjanji atas nama Maha Pencipta
Jalani satu dari dua ikatan terkuat
Aku ingin kau tau cinta telah berlabuh untukmu, atas nama-Nya
Bersamamu arungi bahtera kasih sayang
Menambah pendar pelangi dengan buah cinta
Ada tangan-tangan kecil bergenggaman
Dalam pelukan cinta kita, atas nama-Nya
Langkah ini telah jauh
Bertahun dan berbelas tahun
Di sini dijalan ini
Terangi rumah kita, dengan Islam
Untuk berpuluh tahun yang ada
Bahkan hingga pintu keabadian datang
Aku ingin tetap denganmu
Penuhi ruang dan kamar kita, dengan Islam
Penyejuk hati kita
Cahaya pewaris kita
Genggam erat kita adalah kehangatan, untuk mereka
Jalan dakwah ini arah yang kita bangun, untuk mereka
Untuk taman indah tempat kita abadikan kebersamaan kita, di Surga-Nya
Gambar

Bukan Hari Ini


Semua pasti mendapat kesempatan terbaik,
Kemarin, hari ini, esok, lusa…
Kesempatan itu tetap adanya,
Milik Allah,
Hak seorang manusia
Tak terganggu gugat,
Jati diri, identitas seorang manusia
Kesejatiannya bergantung di mana diri ditempa
Berbeda kadarnya, tak sama…
Entah kemarin, hari ini, esok ataupun lusa…
Keduanya milik Allah,
Hak manusia
Tak terganggu gugat
Ia pasti datang
Akhi, Ukhti…
Kehebatanmu,
Mungkin bukan hari ini
Bukan kemarin seperti Dia
Bukan esok seperti Dia yang lain
Mungkin lusa, atau sehabis lusa
Mungkin,
Tapi pasti
Percayalah,
Hari ini kau ditempa, dibunuh, diasah
Hingga kau siap
Menghadapi pedang lain dari kehidupan asing yang sebenarnya
Bukan lagi di sini
Bukan lagi di lembah dingin nan sejuk ini
Bukan lagi di dalam pagar teralis kuno tak berwarna
Walau sekarang kau bukan Dia atau Dia yang lainnya,
Bukan apa, bukan siapa
Tak tertanya, tak terlihat
Tapi lusa atau sehabisnya
Percayalah,
Kilatan pedangmu bisa menembus apapun
Menyadarkan yang menyakiti,
Menghangatkan yang tersakiti
Tak terkira, tak tertandingi
Di bawah naungan sang Rabb
Atas izin-Nya
Kesempatan dan jati diri itu milikmu
Untuk cinta dan masa depan umat-Nya
Gambar

Aku Takut


Aku takut,
punggung ini tak mampu menopang beratnya amanah yang diberi
Aku takut,
Laku ku tak sejalan dengan lisan ku
Aku takut,
Masih tak bisa menjaga hati ini
Aku takut…
Ahh… terlalu banyak ketakutan yang ada di hatiku
Terlalu banyak pikiran yang bergelayut di otakku
Aku takut…
Aku lemah dan masih banyak kekurangan dalam diri
Tapi aku tau
Tidak ada insan yang sempurna
Dan untuk berkecimpung di dalamnya, tidak dibutuhkan insan yang sempurna
Tapi yang dibutuhkan adalah insan yang mau belajar menjadi sempurna
Dan aku tau aku tidak sendiri,
banyak orang – orang yang ada di depanku
yang sudah lebih dulu berkecimpung
dan mereka, masih bisa tetap istiqamah,
masih bisa tetap sabar,
dan masih bisa tetap kuat untuk terus berada di jalanNya
tapi aku takut,
aku tak sekuat mereka,
tak seistiqamah mereka
tak sesabar mereka
Ya Rabbi…
Engkau Dzat yang Maha membolak balikkan hati,
Ya Rabbi…
Hamba memohon pada Mu
Tetapkanlah hati ini agar terus berada di atas agamaMu,
Teguhkanlah hati ini dalam menegakkan agamaMu,
Kuatkanlah hati ini agar tak lekang oleh waktu

Selasa, 18 Maret 2014

Tafakur Alam 2014 Rohis Asy-Syabab Politeknik Manufaktur Astra Jakarta


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar sobat Rohis?
semoga tetap dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap istiqomah di jalan Allah.
Sob, Rohis tahun ini mau ngadain kegiatan nih, agenda sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu ngadain acara "Tafakur Alam".

apa tuh Tafakur Alam?
Nah tafakur alam itu adalah acara pendekatan diri kepada alam untuk bisa mensyukuri alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT dengan sangat sempurna. Tafakur Alam tahun lalu berlangsung 2 hari, mulai tanggal 2 Maret sampai tanggal 3 Maret 2013 di Cisarua, Bogor.

ngapain aja sih Tafakur Alam?
Tafakur Alam dikemas dengan sangat menarik dan mendidik khususnya buat anak remaja atau ABG, nah ya kaya kita-kita ini nih dengan status mahasiswanya yang ngakunya gaul, yang kagak ikutan kagak gaul itu mah, hehe just kidding. Pokoknya acaranya di jamin seru, ada berbagi macam games, outbond, hiking yang tentu saja bernuansa Islami. Dan yang lebih seru lagi, alumni-alumni Rohis dan kakak-kakak tercinta kita yang lagi pada magang antusias banget ngeluangin waktu buat hadir dan ikutan, nah kehadiran mereka disana tak lain ingin tetap menyambungkan tali silaturahmi dengan kita disana, tenang enggak ada senioritas lho di Rohis, semua saudara seiman :)

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

kayaknya seru, kapan nih mau diadain?
Pasti seru dong, Insya Allah di akhir Maret nanti tanggal 29-30 Maret 2014 Rohis kembali mengadakan acara Tafakur Alam. Dan tempatnya di Jl. Hankam  No.53 Villa Wisma Cipari,  Cisarua-Bogor. Ayo teman-teman mahasiswa Politeknik Manufaktur Astra buruan daftar, masa rebutan tiket konser rela rebutan, eh tiket tafakur alam ogah-ogahan, hehe insyaAllah ini salah satu tiket masuk surga buat kita.. aamiin
kita berdoa aja semoga kegiatan kita terlaksana dengan lancar. aamin ya robbal 'alamin.



mau liat foto2 Tafakur Alam tahun lalu, nih dia sob :


























Ayoo buruan daftar ke Contact Person yang ada di poster yaa... Salam Ukhuwah Fillah.. Allahu akbar !!!!

Sabtu, 15 Februari 2014

Lagu Kebangsaan Saya Sebagai Warga Bumi Blambangan "BANYUWANGI"

Umbul-Umbul Belambangan


Bul-umbul Belambangan 3xUmbul-umbul Belambangan eman…He
umbul-umbul he Belambangan 2x

Belambangan,
BelambanganTanah Jawa pucuk wetan
Sing arep bosen sing arep bosen
Isun nyebut-nyebut aran ira
Belambangan, Belambangan
Membat mayun Paman
Suwarane gendhing Belambangan
Nyerambahi nusantara
Banyuwangi… kulon gunung wetan segara
Lor lan kidul alas angkerkeliwat-liwat
Belambangan..
Belambangan Aja takon seneng susah kang disanggaTanah endah…
gemelar ring taman sari nusantaraHe.. Belambangan…
He Belambangan
Gemelar ring taman sari nusantara
Belambangan he seneng susahe wistah aja takon
Wis pirang-pirang jaman turun temurun yong wis kelakon
Akeh prahara taping langitira magih biru yara
Magih gedhe magih lampeg umbak umbul segaranira
Belambangan he..
gunung-gunungira magih perkasa
Sawah lan kebonanira wera magih subur nguripi
Aja kengelan banyu mili magih gedhe seumberira
Rakyate magih guyub ngukir lan mbangun sing mari-mari
He Belambangan lir asata banyu segara
Sing bisa asat asih setya baktinisun
Hang sapa-sapa baen arep nyacak ngerusak
Sun belani sun dhepani sun labuhi
Ganda arume getih Sritanjung yong magih semebrung
Amuke satria Menakjingga magih murub ring dhadha
Magih kandel kesaktenane Tawang Alun lan Agung Wilis
Magih murub tekade Sayuwiwit
Lan pahlawan petang puluh lima
Ngadega jejeg … ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil lan makmur
Nusantara…………

Sabtu, 08 Februari 2014

Belajar Dari Seorang Tukang Sol Sepatu


Seperti hari biasa,hari ini kuliah ku lalui dengan semangat jihadku. Bertemu dengan teman-teman kelas begitu membuatku semangat ke kampus setiap pagi. Dengan berbagai macam karakter ku temui di sini, ya meskipun banyak dari berbagai suku, aku nyaman di dalamnya dengan karakterku sendiri untuk berbaur dengan mereka. Meskipun sedikit banyak perdebatan mungkin ini yang malah membuat kami semakin dewasa dan saling merindukan. Jauh dari keluarga sebagai pecandu ilmu itu sangat menantang memang. :D
Kuliah berakhir di sore hari, dengan kebiasaan yang berlangsung, sebagai anak rantau kami berjalan kaki ramai-ramai menuju kost masing-masing dengan berbagai canda tawa disepanjang jalan. Ini yang membuatku tak berasa lelah setelah seharian jadi pecandu ilmu. Namun untuk hari ini, aku tak berjalan bersama mereka karena sesuatu kepentingan kecil yang membuatku harus tertinggal sejenak di kampus. Sesaat setelah selesai tak berpikir panjang aku segera beranjak meninggalkan kampus menuju kostan. Berjalan kaki sendiri pada akhirnya, ya tetap menyenangkan meskipun tak sesenang berjalan bersama mereka.
Sesaat hampir tiba di kostan, aku melihat seorang tua sepuh mengayuhkan sepeda tuanya melintas di depanku ketika aku ingin menyebrang jalan. Entah apa yang ada dipikiranku, seketika itu aku memanggilnya dan bertanya, “Pak, bisa men-sol sandal tidak? Tapi sandalnya ada di rumah.”
“ Bisa, rumahnya dimana?”, jawabnya dengan nada lirih dan senyum. “di gang depan itu pak, no.12B”, selaku. “ini mau pulang? Ya sudah saya ikuti dari belakang ya neng”, sambutnya. Akhirnya aku baru menyadari, kenapa respon pikiran ku secepat kilat begini yaa padahal sebelumnya tidak ada planning untuk men-sol kan sandal ku dirumah.  Ya tapi tak apalah, toh juga tidak ada salahnya malah makin kuat sepertinya..hehe atau mungkin ini sudah rezeki bapak itu (dalam hati). Setiba dikost, aku memintanya menunggu sejanak sembari masuk dan mengambil sandalku. Beliau, menunggunya dengan senyum keriput di wajahnya. Aku masuk dan mengambil sandal dan keluar kembali menemuinya, lalu aku meminta izin masuk untuk melakukan sholat ashar terlabih dahulu, ia menyilakan ku untuk menunaikan kewajibanku. Seusainya, aku kembali menemuinya untuk melihat apakah sandal ku telah selasai di sol atau belum, ternyata belum. Akhirnya tak panjang lebar dengan ke-KEPPO-anku aku segera bertanya cara men-sol sandal yang benar itu bagaimana, ya meskipun tidak berkeinginan menjadi tukang sol sepatu setidaknya aku tahu, pikirku. Ia dengan senang hati menjawab dengan senyum dan telaten mensol satu demi satu tarikan mengelilingi sandalku. Aku semakin semangat untuk bertanya. Pada akhirnya, aku sedikit menyimpang dari topik,ku tanyakan tentang keluarganya. SubhanAllah  aku sedikit berpikir sejenak merenungi ketegaran seorang yang telah tua rentan menjalani kehidupannya. Beliau berasal dari Garut dan merupakan ayah dari 11 orang anak. Dari ke 11 anaknya, 7 orang telah mentas dan berkeluarga sekarang ada yang di Cikarang, Karawang, Tangerang juga meskipun rata-rata hanya mengenyam pendidikan SLTA, dan ke 4 sisanya masih berada di bangku sekolah. Di kerasnya Ibukota ia memilih untuk hidup hanya seorang diri di sebuah rumah kontrakan kecil di dekat pasar Pelita, pasar arah ke Terminal Tanjung Priok terangnya, karena istri dan keluarga berada di kampung, dan enggan tinggal bersama anak-anaknya yang sudah berkeluarga karena perasaannya yang takut merepotkan. “lagi juga kalo yang di kampung dibawa ke Jakarta semua, mahal neng biaya hidupnya belum lagi sekolahnya anak-anak”, tegasnya sambil tersenyum. “Makannya gimana Pak?”,tanyaku. “hehe, beli atuh neng, ga ada yang masakin di sini, istri di kampung sama anak-anak”, sambutnya. Sembari menanti sandalku, aku suguhi ia dengan pertanyaan-pertanyaan ku tentangnya (maklum pak orang keppo, dalam hati). “kelilingnya kemana aja pak? Dari pagi?” tanyaku sambil melihat-lihat peralatan sol di kotak sepedanya. “Berangkatnya dari pagi sampai sore kaya gini, kemana aja neng, namanya cari rezeki kadang jauh, kadang juga deket namanya juga buat keluarga, meskipun sedikit tapi insyaAllah halal dan berkah neng,” pungkasnya sembari menyodorkan sandal yang telah ia sol kepadaku. Dengan sedikit terkejut aku dalam lamunan kecil, segera aku bertanya berapa yang harus aku bayar untuk jasa sol sandalku. Ia hanya mematok harga Rp 10.000,- untuk sepasang sandal dan sepatu ternyata. Aku beranjak meninggalkan bapak tua itu untuk masuk kedalam rumah. Di balik jendela kecil aku mengintip kegiatannya membereskan peralatannya dan segera pergi mengayuh sepedanya untuk melanjutkan perjalanannya pulang. Ya Allah aku terdiam sejenak mendengar kata-kata Pak tua itu tadi , dengan tubuhnya yang telah renta, keriput, dengan sepeda tuanya yang kulihat berkarat di semua bagiannya, hingga tak nampak pelumas sedikitpun dari rantai sepedanya, namun ia tetap semangat mencari rezeki yang halal dan berkah untuk keluarga. Dengan 11 orang anak dan 1 istri dan dirinya sendiri ia mampu menghidupi keluarganya dengan mengandalkan menjadi tukang sol sepatu keliling bertahun-tahun di Ibukota yang hanya mematok harga Rp 10.000,- /pasang. Secara logika ku kalo main hitung-hitungan sebagai anak muda itu mustahil bisa dilakukan, Rp 10.000,- dibagi-bagi dengan mahalnya biaya sekolah, biaya makan, belum sandang, papan, atau kebutuhan lainnya di zaman sekarang, ditambah lagi tidak setiap hari juga orang membutuhkan jasanya, tapi kenyataanya bisa dilakukannya meskipun dengan kesederhanaan adanya. Kurang lebih kata yang masih melekat sampai detik ini adalah “ tetap disyukuri aja neng meskipun sedikit ga apa apa, kan kita masih punya Allah Yang Kaya, InsyaAllah Allah itu ga tidur yang penting kitanya berdo’a dan jangan lupa usaha dan kerja kerasnya”. Benar adanya “Kunfayakun” Allah bisa merubah apa yang Allah kehendaki, meskipun itu diluar logika kita. MAKJLEB sekali kata-katanya membuat ku seketika ingin segera menelepon Ayah Ibuku di rumah sana. Dan berterima kasih untuk semua kerja keras untuk aku anaknya. Hanya do’a semoga tetap sehat kuat untuk Ayah dan Ibuku disana, maafkan nanda yang masih belum bisa membalas secara riil untuk semuanya. Yah begitu berkesan hari ini, alhamdulillah Allah masih mengingatkanku untuk tetap selalu bersyukur. Memang benar  terkadang pelajaran itu tak mengenal siapapun dan dari manapun datangnya, dan jangan memandang siapa yang memberi ilmu namun lihatlah apa yang ingin disampaikan. “Lainsyakartum la adzi dhannakum, walain kafartum inna adzabii lasysyadid”. Semoga bermanfaat dan menginspirasi J


Aku Mencintaimu Dalam Diamku

Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.
Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan nasehatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya.
Aku yang mengagumimu dalam diam. Utuh tak tersentuh. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu.
Karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.
Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.
Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. Maka izinkan aku, hai engkau yang begitu mulia, izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?
Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku.
Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana.
Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.
Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.
Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balika n hati hamba-Nya.
“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”

Hikmah ^_^`

Dari Tetesan Air Mata kita
Belajar Mengerti..
Dari Perselisihan kita Belajar
Memahami..
Dari Pengkhianatan kita Belajar
Kesetiaan..
… Dari Rasa Khawatir kita
Belajar Percaya..
Dari Rasa Kehilangan kita
Belajar Menghargai..
Dari Rasa Bersalah kita Belajar
Memaafkan..
Dari Sebuah Harapan kita
Belajar Berjuang..
Dari Sebuah Perjuangan kita
Belajar Berkorban..
Dari Sebuah Pengorbanan kita
Belajar Ketulusan..
.
Manakala kita Renungkan
semua Peristiwa baik yang
Menyenangkan atau yang
Menyedihkan, akan Membawa
Hikmah Bagi Hati yang Mau
Terbuka untuk Memahami dan
Menggali serta Memetik
Hikmah.
Sungguh Beruntung orang-orang
yang Beriman,segala yang
dialami Tak ada yang sia-
sia…SubhanAllah.

Selasa, 12 Maret 2013

“Antara nikah atau bunuh perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.
“Antara nikah atau bunuh perasaan”
Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? Apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? Seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku” :)
Sedangkan cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy. Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21:
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. 
Senada dengan ungkap Pak Romi Sastrio Wahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan
Selanjutnya ungkapan familier pak Romi Satrio Wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas),Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya” 
Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.
Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.
Insya Allah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekad, niat, keinginan, dan kesabaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak dzikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.
Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.
Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajalla 
Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannya, Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah, kekalkanlah cintanya.”
Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.
 
Gambar

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

PERGILAH !!!


Ingin selalu aku menjaga hati dari godaan
Tak terpengaruh mereka yang ada di sekitarku
Namun, apa daya
Aku hanya manusia biasa
Saat kau datang, aku terkesima
Kau berikan senyuman
Kau ucapkan sepetik kata nan indah
Jujur, aku tak tergoda dengan itu
Tapi, harapan-harapan muncul dari diriku sendiri
Memenuhi ruang hati
Adakah yang salah denganku?
Atau denganmu?
Aku ingin menjaga hati
Tapi, harapan-harapan itu terus berkembang
Seiring kehadiranmu dalam hidupku
Aku semakin tak berdaya
Namun, kau tak kunjung berterus terang
Tak tampak keseriusan
Tak tampak kejelasan
Lalu mengapa kau datang?
Apa kau hanya ingin mengujiku saja?
Ingin kukatakan
Pergi! Pergilah!
Pergi dari hadapanku!
Pergi saja jika kau hanya memberi harapan palsu
Jangan ganggu aku jika kau hanya ingin bermain-main
Datanglah kembali nanti
Jika kau telah siap
Dengan janji yang hakiki
Sepenuh jiwa, raga, dan hati.
Gambar

Butuh Kedewasaan


Ketika lisan tak bisa berucap
Ketika kaki tak kuasa melangkah
Ketika pikiran tak berhenti untuk berpikir
Dan ketika jiwa tak bisa menahan lagi kehendak diri
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Ketika ruang memisahkan kita
Ketika waktu berada di depan kita
Ketika ocehan-ocehan kecil mulai terdengar
Dan ketika puncak amarah ada di kerongkongan
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Bukan diperdebatkan, bukan juga diperselisihkan.
Tapi direnungkan….
Disolusikan…..
Hatiku kembali berkata “butuh kedewasaan”
Memang hidup ini sulit, Apalagi merumuskan kehidupan….
Meski hidup sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur,
Tetap saja manusia ingin eksis dengan rumusannya.
Dia bangga dengan itu, bahkan Angin pun dia sikut.
Dia sombong, Dia angkuh, dan Dia juga ceroboh…..
Sungguh hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Angin itu berhembus sepoi-sepoi, dekat dengan telinganya…
Belum lagi hentakan bumi menggoncangkan jiwanya…
Matanya jadi buta karena itu, ya karena dia sombong
Dari kejauhan terlihat ada orang yang berlari
Tak sabar ingin cepat-cepat bertemu
Dengan dia yang menyikut angin…..
Aku mengelus dada, dan hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Mimpi itu mimpi kita……
Aku, kamu dan kamu
Tapi kenapa aku bangga dengan aku?
Kenapa kamu bangga dengan kamu?
Adakah kita bangga dengan Kita?
Tanganku kembali mengelus dada
“butuh kedewasaan”
Ya…..!!!!!! “butuh kedewasaan”
Tentang mimpi, tentang hidup, tentang apapun itu
Aku tak ubahnya seperti dia yang menyikut angin
Bahkan aku buta lebih dari dia yang buta
Aku juga bisa lebih cepat berlari dibandingkan dia yang terlihat berlari dari kejauhan
Heummmm…..
Tapi selalu hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Gambar

Cinta, Biarkan Aku Menyambut Cinta-Nya


Cinta,
telah lama kita dipisahkan, melalui jarak, melalui waktu…
tak kutemui lagi senyum manismu, tak kujumpai lagi gelak
candamu…
Aku yang pendiam, dan sosokmu yang periang…
Cinta,
kata terakhirmu yang terlontar adalah “Jaga dirimu baik-baik”
Aku menjaga diriku, walau di hatiku masih terbesit keinginan untuk
mengetahui kabarmu…
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, cinta?
Cinta,
Saat itu aku bingung…
Mengapa kamu yang aku pilih…
Aku tertawa sekarang, mungkin sebuah kesalahan di masa lalu
ketika kubiarkan jiwamu datang mengetuk pintu hatiku…
Cinta…
Jiwamu benar-benar menyapa hatiku,
Sungguh cuma sampai di situ…
Lalu Dia menyadarkanku, cinta, tentang dirimu dan juga kesalahanku…
Cinta, sungguh tak pernah aku sesali,
Kau sungguh baik, kau tidak pernah menuntut suatu hubungan…
Kau hanya memberi cinta…
Tanpa pernah menuntut cinta dariku…
Mungkin itu yang membuatku luluh…
Baiklah cinta…
Saat itu mungkin kau tak tau aku juga kagum padamu…
Terima kasih, Cinta,
Atas pengorbananmu… Atas sikap baikmu dan juga cinta yang kau
hadirkan untukku…
Tapi, Cinta…
Sekarang sudah kutemukan cinta yang jauh lebih besar darimu…
Bahkan hatiku pun tak mampu menerima muatan cinta itu…
Aku terbuai dengan cinta-Nya, cinta…
Alunan kasih sayang-Nya telah menyemai molekul cinta yang
dalam di hatiku…
Sungguh harus kutinggalkan engkau, cinta…
Karena hatiku hanya dapat mencintai satu cinta…
Cinta-Nya tak pernah berhenti padaku, sekalipun saat aku
meninggalkan-Nya…
Selamat tinggal, cinta…
Aku memilih-Nya…
Ya, aku memilih cinta-Nya…
Sampai kapan pun, tak akan tergantikan, sekalipun olehmu…
cinta…
Gambar

Dalam Dekapan Dakwah


Menemukanmu dalam dekapan dakwah
Berjanji atas nama Maha Pencipta
Jalani satu dari dua ikatan terkuat
Aku ingin kau tau cinta telah berlabuh untukmu, atas nama-Nya
Bersamamu arungi bahtera kasih sayang
Menambah pendar pelangi dengan buah cinta
Ada tangan-tangan kecil bergenggaman
Dalam pelukan cinta kita, atas nama-Nya
Langkah ini telah jauh
Bertahun dan berbelas tahun
Di sini dijalan ini
Terangi rumah kita, dengan Islam
Untuk berpuluh tahun yang ada
Bahkan hingga pintu keabadian datang
Aku ingin tetap denganmu
Penuhi ruang dan kamar kita, dengan Islam
Penyejuk hati kita
Cahaya pewaris kita
Genggam erat kita adalah kehangatan, untuk mereka
Jalan dakwah ini arah yang kita bangun, untuk mereka
Untuk taman indah tempat kita abadikan kebersamaan kita, di Surga-Nya
Gambar

Bukan Hari Ini


Semua pasti mendapat kesempatan terbaik,
Kemarin, hari ini, esok, lusa…
Kesempatan itu tetap adanya,
Milik Allah,
Hak seorang manusia
Tak terganggu gugat,
Jati diri, identitas seorang manusia
Kesejatiannya bergantung di mana diri ditempa
Berbeda kadarnya, tak sama…
Entah kemarin, hari ini, esok ataupun lusa…
Keduanya milik Allah,
Hak manusia
Tak terganggu gugat
Ia pasti datang
Akhi, Ukhti…
Kehebatanmu,
Mungkin bukan hari ini
Bukan kemarin seperti Dia
Bukan esok seperti Dia yang lain
Mungkin lusa, atau sehabis lusa
Mungkin,
Tapi pasti
Percayalah,
Hari ini kau ditempa, dibunuh, diasah
Hingga kau siap
Menghadapi pedang lain dari kehidupan asing yang sebenarnya
Bukan lagi di sini
Bukan lagi di lembah dingin nan sejuk ini
Bukan lagi di dalam pagar teralis kuno tak berwarna
Walau sekarang kau bukan Dia atau Dia yang lainnya,
Bukan apa, bukan siapa
Tak tertanya, tak terlihat
Tapi lusa atau sehabisnya
Percayalah,
Kilatan pedangmu bisa menembus apapun
Menyadarkan yang menyakiti,
Menghangatkan yang tersakiti
Tak terkira, tak tertandingi
Di bawah naungan sang Rabb
Atas izin-Nya
Kesempatan dan jati diri itu milikmu
Untuk cinta dan masa depan umat-Nya
Gambar

Aku Takut


Aku takut,
punggung ini tak mampu menopang beratnya amanah yang diberi
Aku takut,
Laku ku tak sejalan dengan lisan ku
Aku takut,
Masih tak bisa menjaga hati ini
Aku takut…
Ahh… terlalu banyak ketakutan yang ada di hatiku
Terlalu banyak pikiran yang bergelayut di otakku
Aku takut…
Aku lemah dan masih banyak kekurangan dalam diri
Tapi aku tau
Tidak ada insan yang sempurna
Dan untuk berkecimpung di dalamnya, tidak dibutuhkan insan yang sempurna
Tapi yang dibutuhkan adalah insan yang mau belajar menjadi sempurna
Dan aku tau aku tidak sendiri,
banyak orang – orang yang ada di depanku
yang sudah lebih dulu berkecimpung
dan mereka, masih bisa tetap istiqamah,
masih bisa tetap sabar,
dan masih bisa tetap kuat untuk terus berada di jalanNya
tapi aku takut,
aku tak sekuat mereka,
tak seistiqamah mereka
tak sesabar mereka
Ya Rabbi…
Engkau Dzat yang Maha membolak balikkan hati,
Ya Rabbi…
Hamba memohon pada Mu
Tetapkanlah hati ini agar terus berada di atas agamaMu,
Teguhkanlah hati ini dalam menegakkan agamaMu,
Kuatkanlah hati ini agar tak lekang oleh waktu