Selasa, 12 Maret 2013

“Antara nikah atau bunuh perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.
“Antara nikah atau bunuh perasaan”
Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? Apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? Seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku” :)
Sedangkan cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy. Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21:
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. 
Senada dengan ungkap Pak Romi Sastrio Wahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan
Selanjutnya ungkapan familier pak Romi Satrio Wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas),Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya” 
Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.
Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.
Insya Allah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekad, niat, keinginan, dan kesabaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak dzikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.
Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.
Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajalla 
Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannya, Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah, kekalkanlah cintanya.”
Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.
 
Gambar

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

PERGILAH !!!


Ingin selalu aku menjaga hati dari godaan
Tak terpengaruh mereka yang ada di sekitarku
Namun, apa daya
Aku hanya manusia biasa
Saat kau datang, aku terkesima
Kau berikan senyuman
Kau ucapkan sepetik kata nan indah
Jujur, aku tak tergoda dengan itu
Tapi, harapan-harapan muncul dari diriku sendiri
Memenuhi ruang hati
Adakah yang salah denganku?
Atau denganmu?
Aku ingin menjaga hati
Tapi, harapan-harapan itu terus berkembang
Seiring kehadiranmu dalam hidupku
Aku semakin tak berdaya
Namun, kau tak kunjung berterus terang
Tak tampak keseriusan
Tak tampak kejelasan
Lalu mengapa kau datang?
Apa kau hanya ingin mengujiku saja?
Ingin kukatakan
Pergi! Pergilah!
Pergi dari hadapanku!
Pergi saja jika kau hanya memberi harapan palsu
Jangan ganggu aku jika kau hanya ingin bermain-main
Datanglah kembali nanti
Jika kau telah siap
Dengan janji yang hakiki
Sepenuh jiwa, raga, dan hati.
Gambar

Butuh Kedewasaan


Ketika lisan tak bisa berucap
Ketika kaki tak kuasa melangkah
Ketika pikiran tak berhenti untuk berpikir
Dan ketika jiwa tak bisa menahan lagi kehendak diri
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Ketika ruang memisahkan kita
Ketika waktu berada di depan kita
Ketika ocehan-ocehan kecil mulai terdengar
Dan ketika puncak amarah ada di kerongkongan
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Bukan diperdebatkan, bukan juga diperselisihkan.
Tapi direnungkan….
Disolusikan…..
Hatiku kembali berkata “butuh kedewasaan”
Memang hidup ini sulit, Apalagi merumuskan kehidupan….
Meski hidup sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur,
Tetap saja manusia ingin eksis dengan rumusannya.
Dia bangga dengan itu, bahkan Angin pun dia sikut.
Dia sombong, Dia angkuh, dan Dia juga ceroboh…..
Sungguh hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Angin itu berhembus sepoi-sepoi, dekat dengan telinganya…
Belum lagi hentakan bumi menggoncangkan jiwanya…
Matanya jadi buta karena itu, ya karena dia sombong
Dari kejauhan terlihat ada orang yang berlari
Tak sabar ingin cepat-cepat bertemu
Dengan dia yang menyikut angin…..
Aku mengelus dada, dan hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Mimpi itu mimpi kita……
Aku, kamu dan kamu
Tapi kenapa aku bangga dengan aku?
Kenapa kamu bangga dengan kamu?
Adakah kita bangga dengan Kita?
Tanganku kembali mengelus dada
“butuh kedewasaan”
Ya…..!!!!!! “butuh kedewasaan”
Tentang mimpi, tentang hidup, tentang apapun itu
Aku tak ubahnya seperti dia yang menyikut angin
Bahkan aku buta lebih dari dia yang buta
Aku juga bisa lebih cepat berlari dibandingkan dia yang terlihat berlari dari kejauhan
Heummmm…..
Tapi selalu hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Gambar

Cinta, Biarkan Aku Menyambut Cinta-Nya


Cinta,
telah lama kita dipisahkan, melalui jarak, melalui waktu…
tak kutemui lagi senyum manismu, tak kujumpai lagi gelak
candamu…
Aku yang pendiam, dan sosokmu yang periang…
Cinta,
kata terakhirmu yang terlontar adalah “Jaga dirimu baik-baik”
Aku menjaga diriku, walau di hatiku masih terbesit keinginan untuk
mengetahui kabarmu…
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, cinta?
Cinta,
Saat itu aku bingung…
Mengapa kamu yang aku pilih…
Aku tertawa sekarang, mungkin sebuah kesalahan di masa lalu
ketika kubiarkan jiwamu datang mengetuk pintu hatiku…
Cinta…
Jiwamu benar-benar menyapa hatiku,
Sungguh cuma sampai di situ…
Lalu Dia menyadarkanku, cinta, tentang dirimu dan juga kesalahanku…
Cinta, sungguh tak pernah aku sesali,
Kau sungguh baik, kau tidak pernah menuntut suatu hubungan…
Kau hanya memberi cinta…
Tanpa pernah menuntut cinta dariku…
Mungkin itu yang membuatku luluh…
Baiklah cinta…
Saat itu mungkin kau tak tau aku juga kagum padamu…
Terima kasih, Cinta,
Atas pengorbananmu… Atas sikap baikmu dan juga cinta yang kau
hadirkan untukku…
Tapi, Cinta…
Sekarang sudah kutemukan cinta yang jauh lebih besar darimu…
Bahkan hatiku pun tak mampu menerima muatan cinta itu…
Aku terbuai dengan cinta-Nya, cinta…
Alunan kasih sayang-Nya telah menyemai molekul cinta yang
dalam di hatiku…
Sungguh harus kutinggalkan engkau, cinta…
Karena hatiku hanya dapat mencintai satu cinta…
Cinta-Nya tak pernah berhenti padaku, sekalipun saat aku
meninggalkan-Nya…
Selamat tinggal, cinta…
Aku memilih-Nya…
Ya, aku memilih cinta-Nya…
Sampai kapan pun, tak akan tergantikan, sekalipun olehmu…
cinta…
Gambar

Dalam Dekapan Dakwah


Menemukanmu dalam dekapan dakwah
Berjanji atas nama Maha Pencipta
Jalani satu dari dua ikatan terkuat
Aku ingin kau tau cinta telah berlabuh untukmu, atas nama-Nya
Bersamamu arungi bahtera kasih sayang
Menambah pendar pelangi dengan buah cinta
Ada tangan-tangan kecil bergenggaman
Dalam pelukan cinta kita, atas nama-Nya
Langkah ini telah jauh
Bertahun dan berbelas tahun
Di sini dijalan ini
Terangi rumah kita, dengan Islam
Untuk berpuluh tahun yang ada
Bahkan hingga pintu keabadian datang
Aku ingin tetap denganmu
Penuhi ruang dan kamar kita, dengan Islam
Penyejuk hati kita
Cahaya pewaris kita
Genggam erat kita adalah kehangatan, untuk mereka
Jalan dakwah ini arah yang kita bangun, untuk mereka
Untuk taman indah tempat kita abadikan kebersamaan kita, di Surga-Nya
Gambar

Bukan Hari Ini


Semua pasti mendapat kesempatan terbaik,
Kemarin, hari ini, esok, lusa…
Kesempatan itu tetap adanya,
Milik Allah,
Hak seorang manusia
Tak terganggu gugat,
Jati diri, identitas seorang manusia
Kesejatiannya bergantung di mana diri ditempa
Berbeda kadarnya, tak sama…
Entah kemarin, hari ini, esok ataupun lusa…
Keduanya milik Allah,
Hak manusia
Tak terganggu gugat
Ia pasti datang
Akhi, Ukhti…
Kehebatanmu,
Mungkin bukan hari ini
Bukan kemarin seperti Dia
Bukan esok seperti Dia yang lain
Mungkin lusa, atau sehabis lusa
Mungkin,
Tapi pasti
Percayalah,
Hari ini kau ditempa, dibunuh, diasah
Hingga kau siap
Menghadapi pedang lain dari kehidupan asing yang sebenarnya
Bukan lagi di sini
Bukan lagi di lembah dingin nan sejuk ini
Bukan lagi di dalam pagar teralis kuno tak berwarna
Walau sekarang kau bukan Dia atau Dia yang lainnya,
Bukan apa, bukan siapa
Tak tertanya, tak terlihat
Tapi lusa atau sehabisnya
Percayalah,
Kilatan pedangmu bisa menembus apapun
Menyadarkan yang menyakiti,
Menghangatkan yang tersakiti
Tak terkira, tak tertandingi
Di bawah naungan sang Rabb
Atas izin-Nya
Kesempatan dan jati diri itu milikmu
Untuk cinta dan masa depan umat-Nya
Gambar

Aku Takut


Aku takut,
punggung ini tak mampu menopang beratnya amanah yang diberi
Aku takut,
Laku ku tak sejalan dengan lisan ku
Aku takut,
Masih tak bisa menjaga hati ini
Aku takut…
Ahh… terlalu banyak ketakutan yang ada di hatiku
Terlalu banyak pikiran yang bergelayut di otakku
Aku takut…
Aku lemah dan masih banyak kekurangan dalam diri
Tapi aku tau
Tidak ada insan yang sempurna
Dan untuk berkecimpung di dalamnya, tidak dibutuhkan insan yang sempurna
Tapi yang dibutuhkan adalah insan yang mau belajar menjadi sempurna
Dan aku tau aku tidak sendiri,
banyak orang – orang yang ada di depanku
yang sudah lebih dulu berkecimpung
dan mereka, masih bisa tetap istiqamah,
masih bisa tetap sabar,
dan masih bisa tetap kuat untuk terus berada di jalanNya
tapi aku takut,
aku tak sekuat mereka,
tak seistiqamah mereka
tak sesabar mereka
Ya Rabbi…
Engkau Dzat yang Maha membolak balikkan hati,
Ya Rabbi…
Hamba memohon pada Mu
Tetapkanlah hati ini agar terus berada di atas agamaMu,
Teguhkanlah hati ini dalam menegakkan agamaMu,
Kuatkanlah hati ini agar tak lekang oleh waktu

Kini Aku Telah Menjadi MAHASISWA :)


Ummi, mungkin itulah kata terindah yang pernah dimiliki seorang anak, di manapun ia berada, dari manapun ia berasal. Begitu pula denganku. Kata itu lah yang selalu menghiasi lembar demi lembar buku diary ku sejak kecil hingga kini, mahasiswa.
Beberapa bulan lalu, berita bahagia itu datang. Ya, berita kelulusan tentang diterimanya aku di sebuah perguruan tinggi di Jakarta membuat hatiku menari-nari sejak pagi. Ummi yang tau mengenai itu lantas segera menghampiriku dan memeluk, erat sekali. “Barakallah ya anak ummi yang shalihah, semoga makin rajin ibadahnya” pesan beliau di telinga kananku
Aku hanya terdiam, ada dua perasaan yang bercampur di sana. Antara sedih dan bahagia. Tak terasa butiran bening mengalir perlahan dari kedua mataku.
“Ummi, aku gak jadi deh kuliah di sana” kutatap wajah lembut ummi
“Kenapa sayang? Diambil aja, itu hadiah dari Allah loh”
Hening. Lagi lagi aku hanya diam sambil sesenggukan menahan tangis agar tak semakin menderas
Namun kata-kata itu hanya bergema di hatiku. Ah andai ummi tahu mengenai itu semua…
Sejurus kemudian ummi menatapku dalam-dalam, menepuk pundakku, lantas berlalu ke kamar.
Wajah ummi beberapa hari kemudian kulihat amat sendu. Aku tahu, itu pasti karena dalam tenggat beberapa hari lagi aku akan pergi ke ibu kota.
Suatu malam, saat semua orang tengah terlelap dalam mimpi panjang mereka, aku terbangun. Lamat-lamat ku dengar sebuah suara yang tak asing lagi di telinga. Suara itu, ya Rabb sedang menangis…
Perlahan aku mendekati sumber suara, sekelabat bayangan muncul tengah bersimpuh di atas sajadah biru muda, ummi dengan kepasrahannya yang besar pada sang pencipta, menengadahkan tangan seraya berdoa “ya Allah, yang maha meluaskan rizki, hamba mohon lapangkanlah rizkimu untuk anakhamba, lancarkan dan lindungilah anak hamba dalam menutut ilmu dinegeri orang. Semua engkau yang berkehendak ya rahmaan…” diucapkannya doa itu berulang kali dengan suara pelan, seolah tak ingin didengar oleh dinding sekalipun.
Perlahan, aku beringsut kembali menuju kamar dan memejamkan mata.
Izinkan aku bermimpi sejenak dalam tidurku nanti, bermimpi tentang senyum yang selalu ku dapati kala menatap wajah teduh itu, bermimpi tentang masa kecil yang penuh warna bersamanya ya Rabb…
Ummi, kini aku telah resmi berstatus mahasiswa, itu semua berkat Allah dan doa-doa ummi yang membawanya melangit bersama lantunan dzikirmu untuk kami, anak-anakmu.
Ummi, sosokmu selalu menghiasi baris demi baris, lembar demi lembar buku diaryku. Senyummu, canda tawamu, amarahmu, teguranmu, semua mengkristal dalam pori-pori otakku.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi tak jarang masih ku temui tengah melantunkan doa-doa panjang untuk kami, anak-anaknya. Doa yang terlukis dalam hari-hari kami
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja mengingatkanku agar tak lupa shalat, menanyakan kabar, hingga menyanyikan sebait lagu untukku, meski hanya lewat sambungan telepon.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja dengan setia mendengar celotehanku, menjadi teman curhatku saat banyak tugas yang ku hadapi.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan aku masih saja belum mampu membalas semua kasih sayang dan kebaikannya.
Kini aku telah menjadi mahasiswa dan aku hanya mampu menuliskan sebait puisi pada diary yang penuh luapan rinduku padanya. Biarkan Allah saja yang membalas semua cinta yang telah diberi olehnya. Biarlah Allah mengangkat doa-doa ummi dan mengijabahnya.
aamiin
Maka izinkan aku melukiskan satu rindu padanya dalam sujud malamku, dalam doa panjangku, dan dalam setiap hela nafasku. Ya Allah, cintai ia melebihi cinta ku padanya.
Ummi, saat ku menguntai hari
Ada senyummu menari pada titian pelangi
Ummi…
Tegarmu bagai karang yang kokoh
Ditempa derasnya air laut
Rinai tawamu, serupa percikan nada
yang membangkitkan nadi semangatku
Ummi…
Biarkan aku menyulam rindu
serupa gulungan ombak
agar kau selalu hadir dalam lautan hidupku

JILBABMU


Saudariku…
Jilbab yang Engkau kenakan
Bukan sekedar perhiasan
Jilbab adalah simbol
Engkau adalah Muslimah bukan yang lain
Saudariku…
Jilbab yang Engkau kenakan
Bukan untuk melahirkan kesan keshalihan
Jilbab adalah Kewajiban
Keshalihan dirimu juga adalah Kewajiban
Bukankah Jilbab yang Engkau kenakan
Menjadi Identitas bahwa Engkau adalah Seorang Muslimah
Maka jagalah Perilakumu
Berperilakulah selayaknya seorang Muslimah
Apakah dengan jilbabmu, engkau merasa terkekang?
Jika iya maka ubahlah cara berpikirmu
Karena dengan ketaatanmu kepada Allah
Membuat Bidadari Surga cemburu padamu
Karena Allah memuliakanmu dengan syariatNya
Mari kita bersungguh-sungguh menjalankan amanah ini
Karena mencintai hambaNya yang tunduk dan patuh padaNya
Mari merapikan Jilbab yang kita sandang
Begitu juga keshalihan diri kita sebagai seorang Muslimah
Semangat Menuju CintaNya ^_^

Ketika Jilbabku Dipertanyakan


Malam itu rembulan tak mau menampakkan dirinya. Hawa dingin menyelimuti kota Semarang seharian. Musim hujan telah tiba. Kunang-kunang pun yang hampir punah terlihat di taman kota. Tiara masih duduk di taman kota itu menangis terisak-isak. Mengingat sikap keras ayahnya. Kemarin Tiara terusir dari rumahnya. Siapapun tak menginginkan itu terjadi.
“Ya Allah….apakah Engkau menguji keimanan ku….”, desah Tiara pelan. Sebulan lalu, Tiara memutuskan hijrah. Sebuah keputusan yang begitu rumit baginya. Siap mental. Tapi tak disangka keputusan itu mengakibatkan ayah mengusirnya. Begitu berat terasa. Sesak ketika mengingat kejadian kemarin. “Kamu ingin menjadi istri teroris ya??? “, kata- kata kasar terucap dari bibir ayah Tiara. Tiara tak menyangka komentar ayahnya begitu menusuk hatinya. Tiara belum sempat duduk melepas lelah karena menempuh perjalanan Semarang-Pati. Saat itu di teras rumah ayah dan ibu telah menanti kedatangan Tiara. Salam pun belum terucap. Mencium tangan ayah dan ibunya belum dilakukan Tiara sebagai ritual wajib. Yups, Tiara tahu ayah dan ibunya kaget dengan penampilan Tiara sekarang. Jilbab biru muda yang terulur panjang sampai pinggang, berdeker putih, baju juga berwarna biru terlihat longgar, kaos kakian dan rok hitam.
“Yah, Tiara bisa jelasin….kita masuk dulu….malu diliatin tetangga…” ucap Tiara dengan lembut agar kemarahan ayahnya reda. Latar belakang ayah Tiara sebagai polisi membuat watak ayahnya keras. Disiplin militer telah diterapkan sejak Tiara kecil. Apalagi ayah menaruh harapan besar kepada Tiara. Anak tunggal kebanggaan keluarga.
“Kamu ikut aliran sesat mana??”, ayah tak mempedulikan Tiara. Pertanyaan bertubi-tubi menyudutkan Tiara. Terlihat ibu mulai menangis membayangkan apa yang akan terjadi. Tiara tetap teguh pada pendiriannya. Teriakan ayah pun mengundang perhatian tetangga. Terlihat mereka saling berbisik-bisik satu dengan yang lainnya. Tak ada satu pun yang berani mendekat untuk melerai perseteruan anak dan bapaknya.
“Yah…perempuan yang sudah balik wajib menutupi auratnya kecuali wajah dan telapak tangannya…Allah berfirman dalam surat An-nur ayat 31…Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau  putra- putra saudara lelaki mereka, atau  putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Dan Al-Ahzab ayat 59 Hai nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lalu adakah yang salah dengan Tiara? Tiara hanya ingin kewajiban Tiara sebagai perempuan muslim… Tiara ingin berubah Yah…”. Tiara tetap teguh.
“Tapi Nak…kamu bisa berjilbab seperti remaja pada umumnya… yang lagi trend sekarang gaya Marshanda itu…kamu akan terlihat cantik…kamu juga baru semester 3….pikirkan jika kamu lulus dengan jilbab yang besar seperti itu akan sulit mencari pekerjaan…apalagi kamu jurusan…..” ucap ibu yang langsung dipotong Tiara…
“Bu…rezeki, jodoh dan kematian sudah diatur oleh Allah…”, Tiara belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ayah Tiara menarik jilbab dan membuangnya di depan rumah…Rambut indah Tiara tergurai…sebahu panjangnya…Tiara hanya menangis, tak kuasa melawan ayahnya…Tapi yang menyakitkan…Auratnya dilihat oleh tetangganya yang asik menonton adegan tadi.
“Jangan pernah kembali ke rumah jika kamu masih berpakaian teroris…”, Ayah langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Tiara dan ibu berpelukan sambil menangis…Ibu sangat terpukul mendengar kata-kata ayah…Ibu tahu Tiara tidak main-main dalam jilbabnya. Dan tak tahu akhir kisah perseteruan ini.
“Assalamu’alaikum dek Tiar…”, Lamunan Tiara langsung buyar seketika.
“Wa’alaikumsalam mba Sofie… kok ke sini??”, Tiara langsung menggeser duduknya agar ada tempat untuk mba Sofie.
“Nggak baik loh akhwat duduk-duduk di taman sendirian…sekarang sudah pukul 8 malam…yuk kita pulang…”. Mba Sofie adalah pembina wisma akhwat. Mba Sofie sangat khawatir dengan keadaan Tiara. Sejak kemarin Tiara hanya diam membisu. Kepulangan ke Pati membawa duka bagi Tiara. Mba Sofie bisa memahami sikap ayah Tiara, takut anak kesayangannya terjerumus aliran Islam yang menyesatkan…
“Mba… mengapa semua orang menilai kita negatif… mentang-mentang jilbab kita besar??”, Tiara mengajukan pertanyaan yang pada umumnya ditanyakan akhwat yang baru berhijrah.
“Mereka belum paham dek…tetap istiqamah ya dek…semoga Allah memberi pintu hidayah bagi ayah dek Tiara…jangan takut…Allah bersama kita”, ujar mba Sofie dengan tersenyum sambil memeluk Tiara. Allah telah mempertemukan mereka dalam ikatan ukhuwah islamiyah.
Tiara dan mba Sofie segera bangkit untuk meninggalkan taman itu…perjalanan Tiara masih panjang. Langkah awal telah ditempuh Tiara dengan perjuangan berat. Sebuah komitmen telah dipilih Tiara, memperjuangkan agama ALLAH…mengibarkan bendera ISLAM. Meski tak ada restu dari sang ayah. Tiara masih berharap kelak ayah dan ibu menerima dia apa adanya. Setetes air mata berjatuhan di pipi Tiara. Sepanjat doa tulus dihanturkannya. Berharap ayah dan ibu akan baik-baik saja…

‎”JIKA AKU SUDAH MENIKAH NANTI”


✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mengikuti apa yang Rasulullah SAW Sabda dan Teladankan.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa hormat,
taat serta patuh kepada suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa minta izin kepada suami jika hendak bepergian.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa mengghargai dan menerima pemberian suami serta tidak akan banyak menuntut.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan diri ketika suami tak ada di rumah.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan dan harta suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa berusaha menyenangkan dan menghibur hati suami disaat suami sedang ada masalah.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa melayani suami dengan baik dalam hal kehidupan sehari-hari dan kebutuhan batin.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi penyejuk dalam rumah tangga bagi suami dan anak-anakku.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang tak segan-segan menasehati jika suami melakukan hal tak baik.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang lebih betah di rumah dari pada di luaran untuk hal-hal yang tak ada gunanya.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang selalu bisa memperhatikan apa yang disuka dan yang tak disuka suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang selalu menjauhkan diri dari kumpulan orang-orang yang suka gosip (ghibah).
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi pengayom dan penuh kasih sayang dalam merawat serta mendidik anak-anakku.
✔ Dan aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa lebih mementingkan meningkatkan ibadah dari pada digunakan untuk hal-hal yang tak begitu penting.
Mudah-mudahan kita semua bisa mempraktekkannya dengan penuh ketulusan.

”KATAKAN PADA AYAHMU”


Bismillaahirrohmaanirrohiim
”KATAKAN PADA AYAHMU”
“Katakan Ini Pada Ayahmu Wahai Wanita Muslimah”
Ayah…”Jangan nikahkan aku dengan pemuda yang gemar bermaksiat…!!!”
Ayah…”Tolaklah pinangan kepadaku dari pemuda yang tidak menjaga sholat…!!!”
Ayah…”Jangan restui kedatangan pemuda di rumah ini yang mengajakku keluar sebelum dia halal bagiku…!!!”
Ayah…”Jangan segan menolak jika engkau tidak meridhoi Agamanya…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan lamaran seorang pemuda jika dia engkau ridhoi agamanya meski dia masih kuliah sambil bekerja…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan keinginannya mengajukan ta’aruf kepadaku jika bacaan Al-Qur’an nya mampu membuat ayah menitikkan airmata…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan niat sucinya menikahiku meskipun dia miskin, tapi agama dan akhlaknya telah membwuat ayah bangga…!!!”
Ayah…”engkau waliku dalam memilihkan calon imamku,tidaklah ringan tanggung jawab itu ayah,karena kelak dimintai pertanggung jawaban oleh ALLAH di akhirat.maka pilihkan seorang pemuda terbaik untukku Ayah,yang engkau dan ibu serta ALLAH ridhoi,seorang hamba yang akan menjadi panutan,pelindung dan cahaya bagiku,bagi keluarga kita,dan terutama bagi Agamaku…!!!”..Aamiin ya Rabbal’alamin..

DIALOG 2 AKHWAT


‎”DIALOG 2 ORANG AKHWAT”
A : Eh.. tau ga sih elu? Pacarku yang sekarang Sholeh banget.
B : Hah? Sholeh? Terus gua mesti bilang WOW gitu?
A : Ya iyalah. Harus dunk. Kan elu yang selalu nyaranin gua kek gitu.
B : Ye.. Sapa bilang? Kan gua cuma bilang, kalo elu mau cari pendamping, carilah yang Sholeh.
A : Terus apa bedanya calon pendamping ama pacar? Kan pacar udah bisa disebut calon pendamping.
B : Ya beda banget lah. Elu bilang pacar elu Sholeh? Ckckckck.. Mana ada anak suka pacaran dibilang Sholeh? Gada ceritanya tuh.
A : Ih.. Malah gak pecaya! Doi tuh kalo lagi ngajak jalan, ato pas lagi duaan, selalu aja kasih nasehat ma gua. Itu artinya Doi Sholeh kan?
B : Hah? Ngajak jalan? Duaan? Cuma duaan? Itu mah malah dilarang oleh Agama. Kalo doi Sholeh, gak semestinya ngajakin elu pacaran, Tapi doi suka silaturrahim ke rumah elu.
Sambil ta’arrufan. Dan mesti ada yang nemenin. Tetep gak boleh duaan apapun alasannya.
A : Gitu ta?
B : Iya dunk. Ingatlah cowok yang baik itu gak bakal ngejalanin apa yang disebut pacaran. Begitu juga cewek. Tau ga sih elu? Menjaga diri dari hubungan yang belum halal itu akan memuliakan diri.
A : Terus apa yang mesti gua lakuin sekarang?
B : Stop lah berpacaran. Karena itu dilarang. Ajaklah doi ta’arrufan ke rumah. Sekalian dikenalain ma bokap N nyokap elu. Kalo doi emank berkomitmen jadiin elu pasangan hidup, yakin doi bakal mau. Tapi kalo gak, yaaa gitu deh. Pikir sendiri lah..
Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya.

SURAT BUAT UMMI


Assalamu’alaikum, Ummi..
Nanda kangen sama ummi, Nanda ingin memeluk ummi..
Ummi, disana baikkah? Ummi, bahagiakah?
Ummi, Nanda ingat beberapa waktu lalu saat ummi ada di samping Nanda. Ummi, Nanda ingin sekali merubah waktu ke saat-saat itu, ummi. Waktu itu Nanda masih labil banget yah, nyusahin ummi terus.
Nanda inget, ummi, waktu nanda nangis gara-gara ummi gak bolehin Nanda nonton ke bioskop, waktu ummi gak bolehin Nanda ngedance bareng temen-temen Nanda. Nanda juga inget waktu ummi bilang Nanda gak boleh pacaran dulu sebelum lulus SMA. Sekarang Nanda udah kuliah, ummi. Nanda boleh gak pacaran?
Nanda gak mau pacaran dulu kok, ummi. Ummi tenang aja. Nanda sudah sedikit lebih dewasa sekarang. Nanda sudah tahu mana yang benar dan yang salah. Nanda bahkan mulai mencoba menerka mana yang lebih banyak manfaat dari mudharatnya. Nanda tahu, dulu kalau nanda pacaran mungkin Nanda gak akan bisa sebagus ini nilai kuliahnya. Juga, Nanda sudah tahu kalau Nanda ke bioskop mungkin Nanda akan bertemu dengan lingkungan yang kurang bagus, seperti teman Nanda. Yah, walaupun itu bukan di bioskopnya. Nanda juga tahu, ummi, kalau ngedance itu memperlihatkan lekuk tubuh. Padahal Nanda udah cape-cape istiqomah nutup aurat Nanda, kalau Nanda ngedance ya sama juga bohong ya ummi.
Ummi, Nanda gak ingin pacaran ummi. Tapi Nanda takut gak cepet dapat jodoh, Ummi. Ada temen Nanda yang bilang, kalau jodoh itu pasti datang cepat atau lambat, dan untuk wanita yang baik akan ada pria yang baik pula. Ummi, doakan Nanda istiqomah untuk hal ini ya,ummi. Bissmillah.
Ummi, disini Nanda selalu doakan ummi, semoga ummi bahagia. Nanda juga tahu, ummi selalu doakan Nanda. Nanda akan segera nyusul ummi. Ummi tunggu Nanda ya. Segera setelah Nanda lulus, dan Nanda dapat calon untuk jadi menantu ummi, Nanda akan pulang ke ummi.
Semoga waktu itu cepat datang, ya ummi.
Waasalamu’alaikum, ummi.

Selasa, 12 Maret 2013

“Antara nikah atau bunuh perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.
“Antara nikah atau bunuh perasaan”
Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? Apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? Seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku” :)
Sedangkan cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy. Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21:
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. 
Senada dengan ungkap Pak Romi Sastrio Wahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan
Selanjutnya ungkapan familier pak Romi Satrio Wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas),Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya” 
Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.
Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.
Insya Allah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekad, niat, keinginan, dan kesabaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak dzikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.
Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.
Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajalla 
Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannya, Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah, kekalkanlah cintanya.”
Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.
 
Gambar

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

PERGILAH !!!


Ingin selalu aku menjaga hati dari godaan
Tak terpengaruh mereka yang ada di sekitarku
Namun, apa daya
Aku hanya manusia biasa
Saat kau datang, aku terkesima
Kau berikan senyuman
Kau ucapkan sepetik kata nan indah
Jujur, aku tak tergoda dengan itu
Tapi, harapan-harapan muncul dari diriku sendiri
Memenuhi ruang hati
Adakah yang salah denganku?
Atau denganmu?
Aku ingin menjaga hati
Tapi, harapan-harapan itu terus berkembang
Seiring kehadiranmu dalam hidupku
Aku semakin tak berdaya
Namun, kau tak kunjung berterus terang
Tak tampak keseriusan
Tak tampak kejelasan
Lalu mengapa kau datang?
Apa kau hanya ingin mengujiku saja?
Ingin kukatakan
Pergi! Pergilah!
Pergi dari hadapanku!
Pergi saja jika kau hanya memberi harapan palsu
Jangan ganggu aku jika kau hanya ingin bermain-main
Datanglah kembali nanti
Jika kau telah siap
Dengan janji yang hakiki
Sepenuh jiwa, raga, dan hati.
Gambar

Butuh Kedewasaan


Ketika lisan tak bisa berucap
Ketika kaki tak kuasa melangkah
Ketika pikiran tak berhenti untuk berpikir
Dan ketika jiwa tak bisa menahan lagi kehendak diri
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Ketika ruang memisahkan kita
Ketika waktu berada di depan kita
Ketika ocehan-ocehan kecil mulai terdengar
Dan ketika puncak amarah ada di kerongkongan
Hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Bukan diperdebatkan, bukan juga diperselisihkan.
Tapi direnungkan….
Disolusikan…..
Hatiku kembali berkata “butuh kedewasaan”
Memang hidup ini sulit, Apalagi merumuskan kehidupan….
Meski hidup sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur,
Tetap saja manusia ingin eksis dengan rumusannya.
Dia bangga dengan itu, bahkan Angin pun dia sikut.
Dia sombong, Dia angkuh, dan Dia juga ceroboh…..
Sungguh hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Angin itu berhembus sepoi-sepoi, dekat dengan telinganya…
Belum lagi hentakan bumi menggoncangkan jiwanya…
Matanya jadi buta karena itu, ya karena dia sombong
Dari kejauhan terlihat ada orang yang berlari
Tak sabar ingin cepat-cepat bertemu
Dengan dia yang menyikut angin…..
Aku mengelus dada, dan hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Mimpi itu mimpi kita……
Aku, kamu dan kamu
Tapi kenapa aku bangga dengan aku?
Kenapa kamu bangga dengan kamu?
Adakah kita bangga dengan Kita?
Tanganku kembali mengelus dada
“butuh kedewasaan”
Ya…..!!!!!! “butuh kedewasaan”
Tentang mimpi, tentang hidup, tentang apapun itu
Aku tak ubahnya seperti dia yang menyikut angin
Bahkan aku buta lebih dari dia yang buta
Aku juga bisa lebih cepat berlari dibandingkan dia yang terlihat berlari dari kejauhan
Heummmm…..
Tapi selalu hatiku berkata “butuh kedewasaan”
Gambar

Cinta, Biarkan Aku Menyambut Cinta-Nya


Cinta,
telah lama kita dipisahkan, melalui jarak, melalui waktu…
tak kutemui lagi senyum manismu, tak kujumpai lagi gelak
candamu…
Aku yang pendiam, dan sosokmu yang periang…
Cinta,
kata terakhirmu yang terlontar adalah “Jaga dirimu baik-baik”
Aku menjaga diriku, walau di hatiku masih terbesit keinginan untuk
mengetahui kabarmu…
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, cinta?
Cinta,
Saat itu aku bingung…
Mengapa kamu yang aku pilih…
Aku tertawa sekarang, mungkin sebuah kesalahan di masa lalu
ketika kubiarkan jiwamu datang mengetuk pintu hatiku…
Cinta…
Jiwamu benar-benar menyapa hatiku,
Sungguh cuma sampai di situ…
Lalu Dia menyadarkanku, cinta, tentang dirimu dan juga kesalahanku…
Cinta, sungguh tak pernah aku sesali,
Kau sungguh baik, kau tidak pernah menuntut suatu hubungan…
Kau hanya memberi cinta…
Tanpa pernah menuntut cinta dariku…
Mungkin itu yang membuatku luluh…
Baiklah cinta…
Saat itu mungkin kau tak tau aku juga kagum padamu…
Terima kasih, Cinta,
Atas pengorbananmu… Atas sikap baikmu dan juga cinta yang kau
hadirkan untukku…
Tapi, Cinta…
Sekarang sudah kutemukan cinta yang jauh lebih besar darimu…
Bahkan hatiku pun tak mampu menerima muatan cinta itu…
Aku terbuai dengan cinta-Nya, cinta…
Alunan kasih sayang-Nya telah menyemai molekul cinta yang
dalam di hatiku…
Sungguh harus kutinggalkan engkau, cinta…
Karena hatiku hanya dapat mencintai satu cinta…
Cinta-Nya tak pernah berhenti padaku, sekalipun saat aku
meninggalkan-Nya…
Selamat tinggal, cinta…
Aku memilih-Nya…
Ya, aku memilih cinta-Nya…
Sampai kapan pun, tak akan tergantikan, sekalipun olehmu…
cinta…
Gambar

Dalam Dekapan Dakwah


Menemukanmu dalam dekapan dakwah
Berjanji atas nama Maha Pencipta
Jalani satu dari dua ikatan terkuat
Aku ingin kau tau cinta telah berlabuh untukmu, atas nama-Nya
Bersamamu arungi bahtera kasih sayang
Menambah pendar pelangi dengan buah cinta
Ada tangan-tangan kecil bergenggaman
Dalam pelukan cinta kita, atas nama-Nya
Langkah ini telah jauh
Bertahun dan berbelas tahun
Di sini dijalan ini
Terangi rumah kita, dengan Islam
Untuk berpuluh tahun yang ada
Bahkan hingga pintu keabadian datang
Aku ingin tetap denganmu
Penuhi ruang dan kamar kita, dengan Islam
Penyejuk hati kita
Cahaya pewaris kita
Genggam erat kita adalah kehangatan, untuk mereka
Jalan dakwah ini arah yang kita bangun, untuk mereka
Untuk taman indah tempat kita abadikan kebersamaan kita, di Surga-Nya
Gambar

Bukan Hari Ini


Semua pasti mendapat kesempatan terbaik,
Kemarin, hari ini, esok, lusa…
Kesempatan itu tetap adanya,
Milik Allah,
Hak seorang manusia
Tak terganggu gugat,
Jati diri, identitas seorang manusia
Kesejatiannya bergantung di mana diri ditempa
Berbeda kadarnya, tak sama…
Entah kemarin, hari ini, esok ataupun lusa…
Keduanya milik Allah,
Hak manusia
Tak terganggu gugat
Ia pasti datang
Akhi, Ukhti…
Kehebatanmu,
Mungkin bukan hari ini
Bukan kemarin seperti Dia
Bukan esok seperti Dia yang lain
Mungkin lusa, atau sehabis lusa
Mungkin,
Tapi pasti
Percayalah,
Hari ini kau ditempa, dibunuh, diasah
Hingga kau siap
Menghadapi pedang lain dari kehidupan asing yang sebenarnya
Bukan lagi di sini
Bukan lagi di lembah dingin nan sejuk ini
Bukan lagi di dalam pagar teralis kuno tak berwarna
Walau sekarang kau bukan Dia atau Dia yang lainnya,
Bukan apa, bukan siapa
Tak tertanya, tak terlihat
Tapi lusa atau sehabisnya
Percayalah,
Kilatan pedangmu bisa menembus apapun
Menyadarkan yang menyakiti,
Menghangatkan yang tersakiti
Tak terkira, tak tertandingi
Di bawah naungan sang Rabb
Atas izin-Nya
Kesempatan dan jati diri itu milikmu
Untuk cinta dan masa depan umat-Nya
Gambar

Aku Takut


Aku takut,
punggung ini tak mampu menopang beratnya amanah yang diberi
Aku takut,
Laku ku tak sejalan dengan lisan ku
Aku takut,
Masih tak bisa menjaga hati ini
Aku takut…
Ahh… terlalu banyak ketakutan yang ada di hatiku
Terlalu banyak pikiran yang bergelayut di otakku
Aku takut…
Aku lemah dan masih banyak kekurangan dalam diri
Tapi aku tau
Tidak ada insan yang sempurna
Dan untuk berkecimpung di dalamnya, tidak dibutuhkan insan yang sempurna
Tapi yang dibutuhkan adalah insan yang mau belajar menjadi sempurna
Dan aku tau aku tidak sendiri,
banyak orang – orang yang ada di depanku
yang sudah lebih dulu berkecimpung
dan mereka, masih bisa tetap istiqamah,
masih bisa tetap sabar,
dan masih bisa tetap kuat untuk terus berada di jalanNya
tapi aku takut,
aku tak sekuat mereka,
tak seistiqamah mereka
tak sesabar mereka
Ya Rabbi…
Engkau Dzat yang Maha membolak balikkan hati,
Ya Rabbi…
Hamba memohon pada Mu
Tetapkanlah hati ini agar terus berada di atas agamaMu,
Teguhkanlah hati ini dalam menegakkan agamaMu,
Kuatkanlah hati ini agar tak lekang oleh waktu

Kini Aku Telah Menjadi MAHASISWA :)


Ummi, mungkin itulah kata terindah yang pernah dimiliki seorang anak, di manapun ia berada, dari manapun ia berasal. Begitu pula denganku. Kata itu lah yang selalu menghiasi lembar demi lembar buku diary ku sejak kecil hingga kini, mahasiswa.
Beberapa bulan lalu, berita bahagia itu datang. Ya, berita kelulusan tentang diterimanya aku di sebuah perguruan tinggi di Jakarta membuat hatiku menari-nari sejak pagi. Ummi yang tau mengenai itu lantas segera menghampiriku dan memeluk, erat sekali. “Barakallah ya anak ummi yang shalihah, semoga makin rajin ibadahnya” pesan beliau di telinga kananku
Aku hanya terdiam, ada dua perasaan yang bercampur di sana. Antara sedih dan bahagia. Tak terasa butiran bening mengalir perlahan dari kedua mataku.
“Ummi, aku gak jadi deh kuliah di sana” kutatap wajah lembut ummi
“Kenapa sayang? Diambil aja, itu hadiah dari Allah loh”
Hening. Lagi lagi aku hanya diam sambil sesenggukan menahan tangis agar tak semakin menderas
Namun kata-kata itu hanya bergema di hatiku. Ah andai ummi tahu mengenai itu semua…
Sejurus kemudian ummi menatapku dalam-dalam, menepuk pundakku, lantas berlalu ke kamar.
Wajah ummi beberapa hari kemudian kulihat amat sendu. Aku tahu, itu pasti karena dalam tenggat beberapa hari lagi aku akan pergi ke ibu kota.
Suatu malam, saat semua orang tengah terlelap dalam mimpi panjang mereka, aku terbangun. Lamat-lamat ku dengar sebuah suara yang tak asing lagi di telinga. Suara itu, ya Rabb sedang menangis…
Perlahan aku mendekati sumber suara, sekelabat bayangan muncul tengah bersimpuh di atas sajadah biru muda, ummi dengan kepasrahannya yang besar pada sang pencipta, menengadahkan tangan seraya berdoa “ya Allah, yang maha meluaskan rizki, hamba mohon lapangkanlah rizkimu untuk anakhamba, lancarkan dan lindungilah anak hamba dalam menutut ilmu dinegeri orang. Semua engkau yang berkehendak ya rahmaan…” diucapkannya doa itu berulang kali dengan suara pelan, seolah tak ingin didengar oleh dinding sekalipun.
Perlahan, aku beringsut kembali menuju kamar dan memejamkan mata.
Izinkan aku bermimpi sejenak dalam tidurku nanti, bermimpi tentang senyum yang selalu ku dapati kala menatap wajah teduh itu, bermimpi tentang masa kecil yang penuh warna bersamanya ya Rabb…
Ummi, kini aku telah resmi berstatus mahasiswa, itu semua berkat Allah dan doa-doa ummi yang membawanya melangit bersama lantunan dzikirmu untuk kami, anak-anakmu.
Ummi, sosokmu selalu menghiasi baris demi baris, lembar demi lembar buku diaryku. Senyummu, canda tawamu, amarahmu, teguranmu, semua mengkristal dalam pori-pori otakku.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi tak jarang masih ku temui tengah melantunkan doa-doa panjang untuk kami, anak-anaknya. Doa yang terlukis dalam hari-hari kami
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja mengingatkanku agar tak lupa shalat, menanyakan kabar, hingga menyanyikan sebait lagu untukku, meski hanya lewat sambungan telepon.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja dengan setia mendengar celotehanku, menjadi teman curhatku saat banyak tugas yang ku hadapi.
Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan aku masih saja belum mampu membalas semua kasih sayang dan kebaikannya.
Kini aku telah menjadi mahasiswa dan aku hanya mampu menuliskan sebait puisi pada diary yang penuh luapan rinduku padanya. Biarkan Allah saja yang membalas semua cinta yang telah diberi olehnya. Biarlah Allah mengangkat doa-doa ummi dan mengijabahnya.
aamiin
Maka izinkan aku melukiskan satu rindu padanya dalam sujud malamku, dalam doa panjangku, dan dalam setiap hela nafasku. Ya Allah, cintai ia melebihi cinta ku padanya.
Ummi, saat ku menguntai hari
Ada senyummu menari pada titian pelangi
Ummi…
Tegarmu bagai karang yang kokoh
Ditempa derasnya air laut
Rinai tawamu, serupa percikan nada
yang membangkitkan nadi semangatku
Ummi…
Biarkan aku menyulam rindu
serupa gulungan ombak
agar kau selalu hadir dalam lautan hidupku

JILBABMU


Saudariku…
Jilbab yang Engkau kenakan
Bukan sekedar perhiasan
Jilbab adalah simbol
Engkau adalah Muslimah bukan yang lain
Saudariku…
Jilbab yang Engkau kenakan
Bukan untuk melahirkan kesan keshalihan
Jilbab adalah Kewajiban
Keshalihan dirimu juga adalah Kewajiban
Bukankah Jilbab yang Engkau kenakan
Menjadi Identitas bahwa Engkau adalah Seorang Muslimah
Maka jagalah Perilakumu
Berperilakulah selayaknya seorang Muslimah
Apakah dengan jilbabmu, engkau merasa terkekang?
Jika iya maka ubahlah cara berpikirmu
Karena dengan ketaatanmu kepada Allah
Membuat Bidadari Surga cemburu padamu
Karena Allah memuliakanmu dengan syariatNya
Mari kita bersungguh-sungguh menjalankan amanah ini
Karena mencintai hambaNya yang tunduk dan patuh padaNya
Mari merapikan Jilbab yang kita sandang
Begitu juga keshalihan diri kita sebagai seorang Muslimah
Semangat Menuju CintaNya ^_^

Ketika Jilbabku Dipertanyakan


Malam itu rembulan tak mau menampakkan dirinya. Hawa dingin menyelimuti kota Semarang seharian. Musim hujan telah tiba. Kunang-kunang pun yang hampir punah terlihat di taman kota. Tiara masih duduk di taman kota itu menangis terisak-isak. Mengingat sikap keras ayahnya. Kemarin Tiara terusir dari rumahnya. Siapapun tak menginginkan itu terjadi.
“Ya Allah….apakah Engkau menguji keimanan ku….”, desah Tiara pelan. Sebulan lalu, Tiara memutuskan hijrah. Sebuah keputusan yang begitu rumit baginya. Siap mental. Tapi tak disangka keputusan itu mengakibatkan ayah mengusirnya. Begitu berat terasa. Sesak ketika mengingat kejadian kemarin. “Kamu ingin menjadi istri teroris ya??? “, kata- kata kasar terucap dari bibir ayah Tiara. Tiara tak menyangka komentar ayahnya begitu menusuk hatinya. Tiara belum sempat duduk melepas lelah karena menempuh perjalanan Semarang-Pati. Saat itu di teras rumah ayah dan ibu telah menanti kedatangan Tiara. Salam pun belum terucap. Mencium tangan ayah dan ibunya belum dilakukan Tiara sebagai ritual wajib. Yups, Tiara tahu ayah dan ibunya kaget dengan penampilan Tiara sekarang. Jilbab biru muda yang terulur panjang sampai pinggang, berdeker putih, baju juga berwarna biru terlihat longgar, kaos kakian dan rok hitam.
“Yah, Tiara bisa jelasin….kita masuk dulu….malu diliatin tetangga…” ucap Tiara dengan lembut agar kemarahan ayahnya reda. Latar belakang ayah Tiara sebagai polisi membuat watak ayahnya keras. Disiplin militer telah diterapkan sejak Tiara kecil. Apalagi ayah menaruh harapan besar kepada Tiara. Anak tunggal kebanggaan keluarga.
“Kamu ikut aliran sesat mana??”, ayah tak mempedulikan Tiara. Pertanyaan bertubi-tubi menyudutkan Tiara. Terlihat ibu mulai menangis membayangkan apa yang akan terjadi. Tiara tetap teguh pada pendiriannya. Teriakan ayah pun mengundang perhatian tetangga. Terlihat mereka saling berbisik-bisik satu dengan yang lainnya. Tak ada satu pun yang berani mendekat untuk melerai perseteruan anak dan bapaknya.
“Yah…perempuan yang sudah balik wajib menutupi auratnya kecuali wajah dan telapak tangannya…Allah berfirman dalam surat An-nur ayat 31…Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau  putra- putra saudara lelaki mereka, atau  putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Dan Al-Ahzab ayat 59 Hai nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lalu adakah yang salah dengan Tiara? Tiara hanya ingin kewajiban Tiara sebagai perempuan muslim… Tiara ingin berubah Yah…”. Tiara tetap teguh.
“Tapi Nak…kamu bisa berjilbab seperti remaja pada umumnya… yang lagi trend sekarang gaya Marshanda itu…kamu akan terlihat cantik…kamu juga baru semester 3….pikirkan jika kamu lulus dengan jilbab yang besar seperti itu akan sulit mencari pekerjaan…apalagi kamu jurusan…..” ucap ibu yang langsung dipotong Tiara…
“Bu…rezeki, jodoh dan kematian sudah diatur oleh Allah…”, Tiara belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ayah Tiara menarik jilbab dan membuangnya di depan rumah…Rambut indah Tiara tergurai…sebahu panjangnya…Tiara hanya menangis, tak kuasa melawan ayahnya…Tapi yang menyakitkan…Auratnya dilihat oleh tetangganya yang asik menonton adegan tadi.
“Jangan pernah kembali ke rumah jika kamu masih berpakaian teroris…”, Ayah langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Tiara dan ibu berpelukan sambil menangis…Ibu sangat terpukul mendengar kata-kata ayah…Ibu tahu Tiara tidak main-main dalam jilbabnya. Dan tak tahu akhir kisah perseteruan ini.
“Assalamu’alaikum dek Tiar…”, Lamunan Tiara langsung buyar seketika.
“Wa’alaikumsalam mba Sofie… kok ke sini??”, Tiara langsung menggeser duduknya agar ada tempat untuk mba Sofie.
“Nggak baik loh akhwat duduk-duduk di taman sendirian…sekarang sudah pukul 8 malam…yuk kita pulang…”. Mba Sofie adalah pembina wisma akhwat. Mba Sofie sangat khawatir dengan keadaan Tiara. Sejak kemarin Tiara hanya diam membisu. Kepulangan ke Pati membawa duka bagi Tiara. Mba Sofie bisa memahami sikap ayah Tiara, takut anak kesayangannya terjerumus aliran Islam yang menyesatkan…
“Mba… mengapa semua orang menilai kita negatif… mentang-mentang jilbab kita besar??”, Tiara mengajukan pertanyaan yang pada umumnya ditanyakan akhwat yang baru berhijrah.
“Mereka belum paham dek…tetap istiqamah ya dek…semoga Allah memberi pintu hidayah bagi ayah dek Tiara…jangan takut…Allah bersama kita”, ujar mba Sofie dengan tersenyum sambil memeluk Tiara. Allah telah mempertemukan mereka dalam ikatan ukhuwah islamiyah.
Tiara dan mba Sofie segera bangkit untuk meninggalkan taman itu…perjalanan Tiara masih panjang. Langkah awal telah ditempuh Tiara dengan perjuangan berat. Sebuah komitmen telah dipilih Tiara, memperjuangkan agama ALLAH…mengibarkan bendera ISLAM. Meski tak ada restu dari sang ayah. Tiara masih berharap kelak ayah dan ibu menerima dia apa adanya. Setetes air mata berjatuhan di pipi Tiara. Sepanjat doa tulus dihanturkannya. Berharap ayah dan ibu akan baik-baik saja…

‎”JIKA AKU SUDAH MENIKAH NANTI”


✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mengikuti apa yang Rasulullah SAW Sabda dan Teladankan.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa hormat,
taat serta patuh kepada suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa minta izin kepada suami jika hendak bepergian.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa mengghargai dan menerima pemberian suami serta tidak akan banyak menuntut.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan diri ketika suami tak ada di rumah.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan dan harta suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa berusaha menyenangkan dan menghibur hati suami disaat suami sedang ada masalah.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa melayani suami dengan baik dalam hal kehidupan sehari-hari dan kebutuhan batin.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi penyejuk dalam rumah tangga bagi suami dan anak-anakku.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang tak segan-segan menasehati jika suami melakukan hal tak baik.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang lebih betah di rumah dari pada di luaran untuk hal-hal yang tak ada gunanya.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang selalu bisa memperhatikan apa yang disuka dan yang tak disuka suami.
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang selalu menjauhkan diri dari kumpulan orang-orang yang suka gosip (ghibah).
✔ Aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi pengayom dan penuh kasih sayang dalam merawat serta mendidik anak-anakku.
✔ Dan aku ingin menjadi seorang isteri yang senantiasa lebih mementingkan meningkatkan ibadah dari pada digunakan untuk hal-hal yang tak begitu penting.
Mudah-mudahan kita semua bisa mempraktekkannya dengan penuh ketulusan.

”KATAKAN PADA AYAHMU”


Bismillaahirrohmaanirrohiim
”KATAKAN PADA AYAHMU”
“Katakan Ini Pada Ayahmu Wahai Wanita Muslimah”
Ayah…”Jangan nikahkan aku dengan pemuda yang gemar bermaksiat…!!!”
Ayah…”Tolaklah pinangan kepadaku dari pemuda yang tidak menjaga sholat…!!!”
Ayah…”Jangan restui kedatangan pemuda di rumah ini yang mengajakku keluar sebelum dia halal bagiku…!!!”
Ayah…”Jangan segan menolak jika engkau tidak meridhoi Agamanya…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan lamaran seorang pemuda jika dia engkau ridhoi agamanya meski dia masih kuliah sambil bekerja…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan keinginannya mengajukan ta’aruf kepadaku jika bacaan Al-Qur’an nya mampu membuat ayah menitikkan airmata…!!!”
Tapi Ayah…”Pertimbangkan niat sucinya menikahiku meskipun dia miskin, tapi agama dan akhlaknya telah membwuat ayah bangga…!!!”
Ayah…”engkau waliku dalam memilihkan calon imamku,tidaklah ringan tanggung jawab itu ayah,karena kelak dimintai pertanggung jawaban oleh ALLAH di akhirat.maka pilihkan seorang pemuda terbaik untukku Ayah,yang engkau dan ibu serta ALLAH ridhoi,seorang hamba yang akan menjadi panutan,pelindung dan cahaya bagiku,bagi keluarga kita,dan terutama bagi Agamaku…!!!”..Aamiin ya Rabbal’alamin..

DIALOG 2 AKHWAT


‎”DIALOG 2 ORANG AKHWAT”
A : Eh.. tau ga sih elu? Pacarku yang sekarang Sholeh banget.
B : Hah? Sholeh? Terus gua mesti bilang WOW gitu?
A : Ya iyalah. Harus dunk. Kan elu yang selalu nyaranin gua kek gitu.
B : Ye.. Sapa bilang? Kan gua cuma bilang, kalo elu mau cari pendamping, carilah yang Sholeh.
A : Terus apa bedanya calon pendamping ama pacar? Kan pacar udah bisa disebut calon pendamping.
B : Ya beda banget lah. Elu bilang pacar elu Sholeh? Ckckckck.. Mana ada anak suka pacaran dibilang Sholeh? Gada ceritanya tuh.
A : Ih.. Malah gak pecaya! Doi tuh kalo lagi ngajak jalan, ato pas lagi duaan, selalu aja kasih nasehat ma gua. Itu artinya Doi Sholeh kan?
B : Hah? Ngajak jalan? Duaan? Cuma duaan? Itu mah malah dilarang oleh Agama. Kalo doi Sholeh, gak semestinya ngajakin elu pacaran, Tapi doi suka silaturrahim ke rumah elu.
Sambil ta’arrufan. Dan mesti ada yang nemenin. Tetep gak boleh duaan apapun alasannya.
A : Gitu ta?
B : Iya dunk. Ingatlah cowok yang baik itu gak bakal ngejalanin apa yang disebut pacaran. Begitu juga cewek. Tau ga sih elu? Menjaga diri dari hubungan yang belum halal itu akan memuliakan diri.
A : Terus apa yang mesti gua lakuin sekarang?
B : Stop lah berpacaran. Karena itu dilarang. Ajaklah doi ta’arrufan ke rumah. Sekalian dikenalain ma bokap N nyokap elu. Kalo doi emank berkomitmen jadiin elu pasangan hidup, yakin doi bakal mau. Tapi kalo gak, yaaa gitu deh. Pikir sendiri lah..
Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya.

SURAT BUAT UMMI


Assalamu’alaikum, Ummi..
Nanda kangen sama ummi, Nanda ingin memeluk ummi..
Ummi, disana baikkah? Ummi, bahagiakah?
Ummi, Nanda ingat beberapa waktu lalu saat ummi ada di samping Nanda. Ummi, Nanda ingin sekali merubah waktu ke saat-saat itu, ummi. Waktu itu Nanda masih labil banget yah, nyusahin ummi terus.
Nanda inget, ummi, waktu nanda nangis gara-gara ummi gak bolehin Nanda nonton ke bioskop, waktu ummi gak bolehin Nanda ngedance bareng temen-temen Nanda. Nanda juga inget waktu ummi bilang Nanda gak boleh pacaran dulu sebelum lulus SMA. Sekarang Nanda udah kuliah, ummi. Nanda boleh gak pacaran?
Nanda gak mau pacaran dulu kok, ummi. Ummi tenang aja. Nanda sudah sedikit lebih dewasa sekarang. Nanda sudah tahu mana yang benar dan yang salah. Nanda bahkan mulai mencoba menerka mana yang lebih banyak manfaat dari mudharatnya. Nanda tahu, dulu kalau nanda pacaran mungkin Nanda gak akan bisa sebagus ini nilai kuliahnya. Juga, Nanda sudah tahu kalau Nanda ke bioskop mungkin Nanda akan bertemu dengan lingkungan yang kurang bagus, seperti teman Nanda. Yah, walaupun itu bukan di bioskopnya. Nanda juga tahu, ummi, kalau ngedance itu memperlihatkan lekuk tubuh. Padahal Nanda udah cape-cape istiqomah nutup aurat Nanda, kalau Nanda ngedance ya sama juga bohong ya ummi.
Ummi, Nanda gak ingin pacaran ummi. Tapi Nanda takut gak cepet dapat jodoh, Ummi. Ada temen Nanda yang bilang, kalau jodoh itu pasti datang cepat atau lambat, dan untuk wanita yang baik akan ada pria yang baik pula. Ummi, doakan Nanda istiqomah untuk hal ini ya,ummi. Bissmillah.
Ummi, disini Nanda selalu doakan ummi, semoga ummi bahagia. Nanda juga tahu, ummi selalu doakan Nanda. Nanda akan segera nyusul ummi. Ummi tunggu Nanda ya. Segera setelah Nanda lulus, dan Nanda dapat calon untuk jadi menantu ummi, Nanda akan pulang ke ummi.
Semoga waktu itu cepat datang, ya ummi.
Waasalamu’alaikum, ummi.