Selasa, 12 Maret 2013

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

Tidak ada komentar:

Selasa, 12 Maret 2013

IMAN


Rina sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sesekali dia ikut nimbrung dengan teman-temannya yang gaul. Meskipun Rina hanya banyak mendengarkan teman-temannya berbagi cerita, tetapi dia merasa bahwa berkumpul seperti itu perlu dilakukan sebagai pendekatan dan menambah wawasan tentang pergaulan.
“Kawan, ada yang tahu tidak ternyata Lena pacaran” Dian yang agak suka bergosip memulai pembicaraan.
“Oh ya, ga nyangka ya” Nisa menambahkan
“Sssssttttt” Rina memberi kode pada teman-temannya. Teman-temannya yang tahu bahwa Rina tidak suka bergosip langsung mengerti.
“Tapi ini beneran loh. Yaaa, kalo aku sih udah biasa pacaran. Karena emang penampilanku juga biasa aja. Tapi Lena kan beda, dulu penampilannya sepertimu Rina, calm, pakaiannya tertutup dan aktif.” Santi malah ikut meyakinkan
“Ya, sekarang kerudungnya mulai berbelit meskipun masih tertutup sih. Terus dia juga udah mulai pacaran meskipun dia tetep calm dan cantik.” Dian semakin suka membicarakannya.
“Dia aja bisa pacaran masa aku kalah sih sama dia, aku juga pengen kayak dia” Nisa menggerutu.
“Huh, lu mah emang ga laku, hahaha” Santi meledek diiringi suara tawa yang cair.
Dalam hatinya, Rina beristighfar lebih banyak. Dia mencoba mengarahkan pembicaraan itu sebagai hikmah.
“Terus aku harus bilang waw githu, hehe. Ya, kan namanya juga manusia. Tapi seharusnya kita ikhtiarkan yang terbaik, iya gak. Nisa pasti tahu donk, bakalan lebih bahagia kalo kita mencari pasangan hidup tanpa pacaran. Selain bahagia, barokah Insya Allah kita dapat.” Rina mulai masuk.
“Oh, jadi nyindir nih, karena aku pacaran.” Santi protes.
“Ga juga, tapi emang githu kenyataannya” Nisa membantu Rina.
“Bukan, Lena aja kok Rin, ikhwan-ikhwan yang dulu pernah aku kagumi, ternyata oh ternyata” Dian beraksi lagi.
“Eh siapa, aku penasaran, ada githu? Wah, bisa nih jadi inceran” Sinta sok cantik dengan gayanya.
“Itu tuh Kang Sandi, Kang Pian, terus masih ada lagi kok.”
“Wah aku dulu suka banget sama Kang Sandi, dia tuh cool, bacaan Al Qur’annya bagus banget terus pintar lagi. Kang Sandi, kutunggu putusmu, hehe. Pas banget, Santi dan Sandi, hahaha” Pembicaraan menjadi tidak terkendali.
Rina hanya diam dan terus beristighfar dalam hatinya. Sambil berpikir dia pun membayangkan wajah-wajah mereka yang mundur. Kenyataannya kemunduran mereka akan sangat berdampak bagi kemunduran masyarakat. Terbukti dari persepsi “mereka saja bisa pacaran, kenapa kita enggak”.
Alih-alih terbawa arus, mereka yang masih belum dalam pengetahuan Islamnya jadi membenarkan apa yang dilakukan mereka yang tergerus arus. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab. Meskipun, manusia adalah tempat khilaf, tapi perlukah membenarkan perilaku yang dilarang-Nya. Kalau sudah begini siapa yang mampu meluruskannya.
Rina hanya berpikir, tidak mampukah mereka bersabar lebih sedikit lagi. Dia pun merasakan apa yang mereka rasakan, bertahan di tengah arus deras kehidupan. Jika dia lebih jauh dari Allah sejengkal saja, maka pasti dia mengalami apa yang mereka alami. Rina sendiri merasakan tidak mudah membuat tiang tetap berdiri di tengah guncangan yang dahsyat. Selain dia sendiri yang akan terguncang, tiang itu pun akan menimpa atau jatuh bersamanya. Lagi-lagi, kekokohan pondasi yang akan menentukan kekuatan tiang itu.
Rina pun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini. Dosa yang dilakukannya tanpa sadar mungkin menjadi pemicu kemunduran itu. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para petaubat akan berhasil. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para da’i selalu sukses. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para hanif semakin shalih. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para santri berakhlak mulia. Jika saja istiqamah mudah dilakukan, para aktivis tak akan mundur. Jika istiqamah mudah, maka tak ada kisah para Nabi dan Rasul yang bisa dijadikan hikmah. Tapi itulah istimewanya istiqamah, tak mudah dilakukan, namun mudah berhasil bila melakukan. Keberhasilan melakukannya adalah karunia Allah subhanahuwata’ala yang luar biasa. Ketidakmampuan melakukannya hanyalah kelemahan diri semata.
Rina kembali tertegun mendengar kawan-kawan seperjuangannya yang sudah menjadi bahan pembicaraan orang awam. Walau keterikatannya kini mulai memudar, hanya doa yang mampu menghubungkan ikatan yang tak terlihat itu. Rina meyakinkan dirinya bahwa pasti ada pelopor-pelopor baru yang lebih baik dan lebih kuat yang akan mengantarkan Islam pada kemenangan sesungguhnya. Dia beritikad gugur satu tumbuh seribu harus dijadikan dorongan agar tetap semangat menjalankan amanah yang luar biasa itu. Perlahan tapi pasti harus dijadikan untaian kata yang bisa menyabarkannya.
Rina melamunkan bahwa bisa saja besok atau lusa dia sudah tidak ada dalam barisan itu, barisan yang kokoh, entah karena akhirnya usia atau karena kelemahan dirinya. Maka dia pun harus senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dan dikuatkan berada pada barisan kokoh itu. Meskipun dia sadar bahwa ada atau tanpanya, dakwah akan tetap berjalan, tetapi dia pun ingin merasakan kelezatan iman yang tidak bisa dirasakan jika tanpa berada dalam barisan itu.
 
Gambar

Tidak ada komentar: